Sebagai panduan pembelajaran untuk memahami sejarah komprehensif pembentukan Alkitab, kita harus menyadari bahwa Alkitab tidak diturunkan dari surga dalam bentuk sebuah buku yang sudah jadi secara utuh. Sebaliknya, Alkitab adalah produk dari kehidupan, tradisi, pergumulan, dan keputusan Gereja selama berabad-abad.
Berikut adalah rincian mendalam mengenai sejarah terbentuknya Alkitab, drama teologis yang terjadi, tokoh-tokoh utama, proses pengesahan, hingga alasan pemisahan kitab Apokrifa:
Dari Tradisi Suci Menuju Teks Tertulis
Pada mulanya, Kekristenan tidak memiliki Alkitab Perjanjian Baru. Gereja perdana menggunakan Perjanjian Lama yang didasarkan pada terjemahan bahasa Yunani yang disebut Septuaginta (LXX). Tulisan-tulisan Perjanjian Baru berkembang seiring berjalannya waktu, dimulai dari Tradisi Suci yang disampaikan secara lisan dan melalui kehidupan liturgi umat Allah, yang kemudian baru dituliskan. Pada awal abad kedua, tokoh apologet Santo Yustinus Martir menyebutkan adanya "memoar para Rasul" yang disebut sebagai "injil", yang saat itu mulai dianggap setara secara otoritas dengan Perjanjian Lama.
Drama Gereja: Ancaman Marsionisme
Proses kanonisasi (penentuan daftar kitab suci) tidak terjadi dalam ruang hampa, melainkan didorong oleh sebuah "drama" teologis besar pada pertengahan abad kedua. Tokoh utamanya adalah Marsion dari Sinope (sekitar 140 M), seorang pemimpin yang kemudian dicap sesat karena ia mengusulkan kanon Kristen yang membuang seluruh Perjanjian Lama. Marsion mengajarkan pandangan dualisme bahwa Allah pencipta di Perjanjian Lama adalah allah yang jahat, sedangkan Allah di Perjanjian Baru adalah Allah yang pengasih. Ia hanya menerima 10 surat Rasul Paulus dan satu Injil Lukas yang sudah ia sunting sendiri. Ajaran sesat Marsion inilah yang memicu Gereja proto-ortodoks untuk segera menetapkan batas-batas kanon Alkitab yang benar demi melawan daftar kitab palsu yang dibuat oleh Marsion.
Tokoh-Tokoh Berpengaruh dalam Pembentukan Kanon
Dalam merespons ancaman bidat, beberapa Bapa Gereja memainkan peran krusial dalam menyeleksi dan menetapkan kitab-kitab:
- Santo Irenaeus dari Lyons (sekitar 130-200 M): Ia adalah tokoh pertama yang dengan tegas menyatakan bahwa Gereja harus memiliki empat Injil (Tetramorf), yaitu Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes, menolak upaya kelompok penyesat yang ingin menambah atau mengurangi jumlah Injil tersebut.
- Tatian dari Suriah: Di wilayah Suriah, umat Kristen pada awalnya kesulitan menerima empat Injil yang berbeda, sehingga Tatian menyusun Diatessaron (sekitar akhir abad ke-2), yaitu sebuah harmoni yang menggabungkan keempat Injil menjadi satu narasi tunggal. Namun, pada abad ke-5, Gereja Suriah akhirnya kembali menggunakan empat Injil yang terpisah.
- Origen dari Aleksandria (184-254 M): Ia melakukan upaya besar pertama untuk menyeleksi daftar kitab, yang mencakup hampir semua 27 kitab Perjanjian Baru saat ini, meskipun ia mencatat bahwa kitab Yakobus, 2 Petrus, 2 dan 3 Yohanes masih diperdebatkan (Antilegomena).
- Santo Athanasius Agung: Uskup Aleksandria inilah yang pertama kali memberikan daftar persis 27 kitab Perjanjian Baru yang kita kenal sekarang, yang ia tulis di dalam Surat Paskahnya yang ke-39 pada tahun 367 M.
Riwayat Tahun Pengesahan dan Yurisdiksi yang Terlibat Gereja-gereja di berbagai yurisdiksi memiliki proses dan waktu pengesahan kanon yang berbeda-beda:
- Gereja Barat (Yurisdiksi Latin/Roma dan Afrika Utara): Kanon Alkitab mulai ditetapkan secara resmi melalui konsili-konsili lokal. Konsili Roma di bawah Paus Damasus I pada tahun 382 M mengeluarkan daftar kitab suci. Selanjutnya, di Afrika Utara, Sinode Hippo (393 M) dan Konsili Kartago (397 M dan 419 M), yang sangat dipengaruhi oleh pandangan teologis Santo Agustinus dari Hippo, menetapkan dan menutup kanon Alkitab yang mencakup kitab-kitab Deuterokanonika dan 27 kitab Perjanjian Baru.
- Gereja Timur (Yurisdiksi Yunani/Bizantium): Gereja Timur memiliki pendekatan yang lebih longgar dan tidak menetapkan dogma kanon secara kaku pada masa-masa awal. Pengesahan daftar kitab dilakukan melalui Konsili Quinisextum (Konsili Trullo) pada tahun 692 M, yang meratifikasi berbagai daftar kanon sebelumnya, seperti Kanon Para Rasul dan Surat Athanasius.
- Gereja Ortodoks Tewahedo Ethiopia: Yurisdiksi di Afrika ini memiliki tradisi kanon yang paling luas dan beragam, meresmikan 81 kitab ke dalam Alkitab mereka. Kanon mereka dipengaruhi oleh literatur kuno dan tradisi Yahudi, serta memasukkan kitab-kitab seperti Henokh, Yobel, Makabian (berbeda dengan Makabe Yunani), dan kitab-kitab apokrifa Perjanjian Baru seperti Sinodos dan Didaskalia.
- Gereja Asiria dari Timur (Suriah): Mereka mengikuti tradisi liturgis Pesyita, yang secara historis awal tidak memasukkan kitab 2 Petrus, 2 dan 3 Yohanes, Yudas, dan Wahyu.
Mengapa Ada Pemisahan Kitab Apokrifa/Deuterokanonika?
Perpecahan terbesar mengenai status kitab-kitab Deuterokanonika (seperti Tobit, Yudit, Sirakh, Kebijaksanaan Salomo, dan Makabe) terjadi akibat pergolakan Reformasi Protestan pada abad ke-16.
- Tindakan Martin Luther: Tokoh Reformasi Martin Luther (1483–1546) memisahkan kitab-kitab dari Perjanjian Lama Yunani (Septuaginta) yang tidak terdapat dalam Alkitab Ibrani (Teks Masoret) ke dalam bagian khusus yang ia sebut "Apokrifa". Luther menganggap kitab-kitab ini tidak setara dengan Kitab Suci, meskipun ia menganggapnya berguna untuk dibaca. Luther bahkan mencoba untuk membuang kitab Ibrani, Yakobus, Yudas, dan Wahyu dari Perjanjian Baru karena kitab-kitab tersebut bertentangan dengan doktrin pribadinya tentang sola scriptura dan sola fide (keselamatan hanya oleh iman). Pengakuan-pengakuan iman Protestan selanjutnya (seperti Pengakuan Iman Belgia dan Westminster) secara tegas menolak otoritas kitab-kitab Apokrifa ini di dalam gereja.
- Reaksi Gereja Katolik Roma: Sebagai tanggapan atas tindakan Luther, Gereja Katolik Roma menyelenggarakan Konsili Trente. Pada tanggal 8 April 1546, Konsili Trente menetapkan kanon Alkitab Katolik secara dogmatis dan mutlak, mengonfirmasi bahwa kitab-kitab Deuterokanonika adalah bagian yang setara dan terinspirasi dari Kitab Suci, serta menjatuhkan hukuman anatema (kutukan) bagi siapa saja yang menolaknya.
- Pandangan Gereja Ortodoks: Gereja Ortodoks Timur tidak pernah mengalami pergolakan Reformasi seperti di Barat. Mereka tetap mempertahankan dan menggunakan kitab-kitab Deuterokanonika (yang mereka sebut Anagignoskomena atau "layak dibaca") karena sejak zaman Para Rasul dan Gereja Purba, teks dasar Perjanjian Lama yang mereka gunakan dalam ibadah adalah Septuaginta Yunani, yang memang sejak awal sudah memuat kitab-kitab tersebut.
Proses terbentuknya Perjanjian Baru (PB)
Bukanlah sebuah kejadian instan di mana sebuah buku yang sudah utuh turun dari surga, melainkan sebuah proses organik, historis, dan bertahap yang memakan waktu berabad-abad di dalam kehidupan Gereja purba.
Sebagai panduan pembelajaran untuk memahami sejarah komprehensif dari pembentukan Perjanjian Baru, berikut adalah rincian mengenai latar belakang, ancaman ajaran sesat yang memicu pembentukan kanon, dan bagaimana akhirnya kitab-kitab tersebut disahkan:
Latar Belakang dan Pembentukan Teks Awal
Yesus Kristus sendiri tidak pernah meninggalkan catatan atau buku tertulis apa pun selama pelayanan-Nya di bumi. Pada masa-masa awal, ajaran-ajaran-Nya diteruskan melalui tradisi lisan (khotbah dan pengajaran langsung dari para rasul) yang diwariskan kepada komunitas Kristen mula-mula.
Tulisan-tulisan Perjanjian Baru baru mulai disusun dan diedarkan beberapa dekade kemudian. Surat-surat Rasul Paulus adalah dokumen tertulis paling awal yang mulai beredar dalam bentuk kumpulan di berbagai gereja pada akhir abad pertama. Sementara itu, keempat Injil kanonik (Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes) kemungkinan baru ditulis dalam bentuk buku (kodeks) sekitar setengah abad setelah kebangkitan Kristus, yakni pada tiga dekade terakhir abad pertama. Tulisan terakhir yang diyakini masuk ke dalam Perjanjian Baru adalah Kitab Wahyu, yang ditulis menjelang akhir abad pertama. Tokoh apologet awal seperti Yustinus Martir menyebut catatan-catatan Injil ini sebagai "memoar para Rasul" yang kemudian diakui memiliki otoritas setara dengan Perjanjian Lama.
Ancaman dan Serangan dalam Masa Pembentukan Injil
Pada abad kedua, Kekristenan tidak memiliki kanon tertutup, dan hal ini memicu munculnya berbagai aliran teologis yang mengancam keutuhan ajaran rasuli. Terdapat tiga ancaman atau bidat utama yang secara langsung "memaksa" Gereja untuk segera membakukan kanon Alkitab:
- Marsionisme: Marsion dari Sinope (sekitar tahun 140 M) adalah tokoh pertama dalam sejarah yang secara resmi mengusulkan daftar kanon Kristen yang baru. Ia dipengaruhi gagasan dualisme dan menolak Allah Perjanjian Lama yang ia anggap sebagai allah yang jahat dan pemarah. Oleh karena itu, ia membuang seluruh Perjanjian Lama dan menciptakan kanonnya sendiri yang hanya berisi satu Injil (Injil Lukas yang telah ia pangkas dan sunting sendiri) serta sepuluh surat Rasul Paulus. Langkah radikal Marsion ini langsung memicu Gereja proto-ortodoks untuk segera menyusun kanon kitab sucinya sendiri demi melawan daftar palsu tersebut.
- Gnostisisme: Kelompok Gnostik mengklaim bahwa mereka memiliki akses terhadap wahyu dan "pengetahuan rahasia" yang diturunkan oleh Kristus secara sembunyi-sembunyi. Mereka sangat produktif memproduksi puluhan "injil" apokrif pada abad kedua (seperti Injil Tomas) yang penuh dengan ide-ide dualisme. Gereja merespons dengan menegaskan bahwa ajaran Kristen yang benar didasarkan pada tradisi apostolik yang terbuka dan dapat dilacak di semua gereja melalui para rasul, bukan rahasia.
- Montanisme: Gerakan ini mengklaim menerima nubuat-nubuat dan pewahyuan baru langsung dari Roh Kudus (Parakletos) yang memiliki otoritas setara dengan Kitab Suci. Klaim bahwa akan terus ada wahyu baru yang mengikat ini sangat berbahaya, sehingga mendorong Gereja untuk "menutup" (menyegel) kanon Alkitab demi menegaskan bahwa wahyu yang final telah diberikan sekali untuk selamanya di masa para rasul.
Proses Kanonisasi Perjanjian Baru
Untuk menghadapi para heretik, Gereja mulai menyeleksi kitab-kitab yang diakui sebagai Firman Allah. Kriteria utamanya bukanlah keputusan sebuah komite terpusat secara tiba-tiba, melainkan konsensus gereja-gereja mengenai kitab mana yang memiliki asal-usul kerasulan (apostolik) dan secara rutin dibacakan di dalam ibadah (liturgi) umat.
Perjalanan menuju pengesahan (kanonisasi) adalah sebagai berikut:
- Pembelaan Empat Injil (Tetramorf): Santo Irenaeus dari Lyons pada akhir abad kedua menjadi Bapa Gereja pertama yang secara dogmatis menyatakan bahwa Gereja hanya boleh memiliki tepat empat Injil (Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes). Ia menentang keras kaum Gnostik yang ingin menambah jumlah Injil, serta menentang Marsion yang ingin menguranginya menjadi satu. Ia beralasan, sebagaimana ada empat mata angin dan empat penjuru bumi, harus ada empat pilar Injil.
- Penolakan Terhadap Harmonisasi: Di Suriah, tokoh bernama Tatian mencoba menyusun Diatessaron, yakni harmoni yang menggabungkan keempat narasi Injil tersebut menjadi satu cerita tunggal. Meskipun karya ini sangat populer dan sempat digunakan sebagai standar di beberapa gereja Suriah selama lebih dari dua abad, Gereja pada akhirnya menolak penggabungan ini untuk melindungi kekayaan kesaksian yang otentik dan terpisah dari masing-masing penulis Injil.
- Dokumen Muratori dan Seleksi Origen: Bukti awal daftar kanon dapat dilihat pada Fragmen Muratori (diyakini dari abad ke-2), yang mendaftar kitab-kitab Kristen yang meliputi keempat Injil dan banyak surat Paulus. Selanjutnya, pada abad ke-3, tokoh besar Origen dari Aleksandria mulai menyeleksi 27 kitab Perjanjian Baru, meskipun ia memberikan catatan bahwa beberapa kitab (seperti Surat Yakobus, 2 Petrus, serta 2 dan 3 Yohanes) pada masa itu statusnya masih diperdebatkan (Antilegomena) di beberapa daerah.
- Daftar Resmi Pertama (367 M): Momen paling menentukan dalam sejarah Perjanjian Baru terjadi pada tahun 367 Masehi, ketika Santo Athanasius Agung, Patriark Aleksandria, menulis Surat Paskah ke-39 kepada jemaatnya. Di dalam surat tersebut, ia mendaftarkan secara persis 27 kitab Perjanjian Baru yang sama dengan yang kita gunakan saat ini. Ia menggunakan istilah "dikanonisasi" untuk mendefinisikan batas-batas kitab-kitab ini dan secara tegas melarang penambahan maupun pengurangannya.
- Pengesahan dalam Konsili Gereja: Di wilayah Barat (Latin), konsensus 27 kitab ini disahkan dan ditutup secara resmi melalui Sinode Hippo (393 M) dan kemudian diperkuat dalam Konsili Kartago (397 M dan 419 M), yang sangat dipengaruhi oleh dukungan teologis dari Santo Agustinus dari Hippo. Di Gereja Timur, daftar kanon tersebut diratifikasi dan diangkat ke dalam status hukum kanon oikumenis melalui Konsili Quinisextum (Trullo) pada tahun 692 Masehi.
Pada akhirnya, apa yang kita pegang sekarang sebagai Perjanjian Baru merupakan kumpulan teks yang telah berhasil bertahan dari saringan waktu, uji kepalsuan dari kelompok bidat purba, dan konsensus doa umat Kristen mula-mula.
Bidat bidat yang mencoba mempengaruhi pembentukan Alkitab
Sepanjang sejarah Kekristenan, upaya untuk menjaga kemurnian ajaran (ortodoksi) dan pembentukan kanon Alkitab selalu diperhadapkan pada berbagai ancaman dari kelompok-kelompok yang menyimpang (bidat). Kelompok-kelompok ini berusaha mengubah, memotong, atau menambahkan teks-teks baru ke dalam Kitab Suci demi mendukung pandangan teologis mereka sendiri.
Berikut adalah panduan pembelajaran mendalam mengenai bidat-bidat utama yang menyerang ajaran dan proses pembentukan Alkitab di abad-abad awal, serta bagaimana Reformasi Protestan di era modern memengaruhi struktur Alkitab dan tradisi Gereja berdasarkan catatan sejarah:
1. Marsionisme (Abad ke-2)
Marsion dari Sinope (sekitar tahun 140 M) adalah tokoh pertama dalam sejarah yang secara resmi mengusulkan daftar kanon Kristen versinya sendiri, yang menjadi salah satu ancaman terbesar bagi Gereja mula-mula.
- Ajaran: Dipengaruhi oleh pandangan dualisme, Marsion mengajarkan bahwa Allah Pencipta di Perjanjian Lama adalah allah yang jahat, pemarah, dan bodoh, sedangkan Allah di Perjanjian Baru adalah Allah yang baik dan pengasih,,.
- Serangan terhadap Alkitab: Marsion membuang seluruh Perjanjian Lama karena dianggap milik allah yang jahat,. Untuk Perjanjian Baru, ia membuang semua tulisan yang berbau Yahudi dan hanya menerima satu Injil (Injil Lukas yang telah ia pangkas dan sunting sendiri) serta sepuluh surat Rasul Paulus,.
- Dampak: Langkah radikal Marsion ini menjadi katalisator atau pendorong utama bagi Gereja proto-ortodoks untuk segera menyusun dan menetapkan batas-batas kanon Alkitab yang benar demi melawan daftar kitab palsu yang dibuat oleh Marsion,.
2. Gnostisisme (Abad ke-2)
Gnostisisme bukanlah sebuah organisasi tunggal, melainkan gerakan luas yang berusaha mencampuradukkan wahyu Kristen dengan filsafat Yunani (Platonisme) dan dualisme Persia,.
- Ajaran: Mereka memandang bahwa dunia materi (fisik) adalah jahat dan keselamatan hanya bisa dicapai melalui "pengetahuan rahasia" (gnosis) yang hanya diberikan kepada segelintir orang pilihan,. Mereka juga menyangkal bahwa Kristus benar-benar memiliki tubuh manusia yang nyata (doketisme),.
- Serangan terhadap Alkitab: Kelompok Gnostik sangat produktif memproduksi kitab-kitab apokrif dan "injil-injil" palsu (seperti Injil Tomas, Injil Yudas, atau Injil Hawa) yang diklaim sebagai wahyu rahasia dari Kristus. Mereka juga menggunakan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru namun memutarbalikkan maknanya secara alegoris untuk menyesuaikan dengan hawa nafsu dan teologi mereka,.
3. Montanisme (Abad ke-2)
Berbeda dengan Gnostik yang mengubah teks, Montanisme (didirikan oleh Montanus bersama dua nabiahnya, Priscilla dan Maximilla) menyerang kecukupan wahyu Alkitab itu sendiri,.
- Ajaran: Montanus mengklaim bahwa dirinya telah dirasuki oleh Roh Kudus (Parakletos) dan menerima wahyu-wahyu baru yang menggenapi dan bahkan melampaui wahyu yang diberikan kepada para rasul di Perjanjian Baru.
- Serangan terhadap Alkitab: Pada praktiknya, kaum Montanis menetapkan "kanon ketiga" Kitab Suci dengan menambahkan nubuat-nubuat nabi mereka sendiri ke dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.
- Dampak: Untuk membentengi Gereja dari nubuat-nubuat palsu ini, Gereja abad kedua menyatakan bahwa koleksi Kitab Suci telah "disegel", yang berarti tidak ada lagi wahyu baru yang mengikat setelah era para Rasul, sehingga menutup pintu bagi kitab-kitab baru.
4. Bidat-Bidat Yudais (Ebionit, Nazaret, dan Elkesait)
Kelompok-kelompok ini bersikeras bahwa orang Kristen dari bangsa non-Yahudi (Gentiles) harus mematuhi hukum Taurat dan disunat,.
- Ebionit: Mereka memiliki pandangan kristologi yang rendah dengan menganggap Yesus hanya manusia biasa, dan mereka memutilasi Alkitab dengan hanya menerima Pentateukh (Taurat) dan Injil Matius yang telah diubah.
- Cerinthianisme: Didirikan oleh Cerinthus, mereka menolak seluruh surat Rasul Paulus karena Paulus menentang kewajiban sunat.
5. Protestantisme dan Perombakan Alkitab (Abad ke-16)
Memasuki abad ke-16, Reformasi Protestan yang dipelopori oleh Martin Luther, Ulrich Zwingli, dan Yohanes Calvin memisahkan diri dari Gereja Katolik Roma,,. Meskipun bermula sebagai protes terhadap penyimpangan Gereja Roma (seperti penjualan indulgensi), teologi Protestan berevolusi dengan memperkenalkan prinsip Sola Scriptura (Hanya Kitab Suci) yang menolak otoritas Tradisi Suci dan Magisterium,,. Dari sudut pandang tradisi Gereja Kuno (Ortodoks dan Katolik), pendekatan Protestan ini membawa dampak yang radikal terhadap ajaran dan struktur Alkitab:
- Pemotongan Kanon Alkitab (Apokrifa/Deuterokanonika): Martin Luther mengambil keputusan untuk mengeluarkan beberapa kitab dari Perjanjian Lama Yunani (Septuaginta) yang telah digunakan Gereja Purba, dan memindahkannya ke dalam apendiks yang disebut "Apokrifa",. Kitab-kitab ini (seperti Tobit, Makabe, Kebijaksanaan Salomo) ditolak status kanoniknya secara tegas oleh pengakuan-pengakuan iman Protestan (seperti Pengakuan Iman Westminster) karena kitab-kitab tersebut mengandung ayat-ayat yang bertentangan dengan doktrin pribadi Luther, seperti keselamatan hanya oleh iman (sola fide),,.
- Keraguan terhadap Perjanjian Baru: Luther juga sempat meragukan dan mencoba membuang kitab Ibrani, Yakobus, Yudas, dan Wahyu dari kanon,. Ia sangat membenci Surat Yakobus karena secara eksplisit menyatakan bahwa manusia dibenarkan oleh perbuatan dan bukan oleh iman saja (Yakobus 2:24), sehingga Luther menyebutnya sebagai "surat jerami" yang tidak memiliki sifat Injil. Meskipun pada akhirnya ia membiarkannya di dalam Alkitab, Luther mengubah urutan Perjanjian Baru berbahasa Jerman dengan meletakkan keempat kitab tersebut di bagian paling akhir,.
- Penolakan Tradisi dan Lahirnya Ribuan Denominasi: Zwingli dan para tokoh Reformasi Radikal (seperti Anabaptis) membawa prinsip Sola Scriptura lebih jauh dengan membuang segala ritual dan ajaran yang tidak tertulis secara harfiah di dalam Alkitab,. Tanpa adanya Tradisi Suci yang berkesinambungan untuk memandu penafsiran Alkitab, umat Protestan terpecah belah karena masing-masing individu atau kelompok merasa berhak menafsirkan Alkitab menurut pemahaman mereka sendiri,. Hal ini mengakibatkan Kekristenan Barat terpecah menjadi puluhan ribu denominasi yang saling bertentangan satu sama lain,.
- Bangkitnya Kembali Bidat Kuno: Penolakan terhadap tradisi Gereja dan dogma-dogma Konsili Ekumenis menyebabkan beberapa kelompok sayap radikal pada era Reformasi menyangkal doktrin Tritunggal dan keilahian Kristus,. Tokoh-tokoh seperti Michael Servetus dan Faustus Socinus menghidupkan kembali bidat unitarian purba, dengan berdalih bahwa doktrin Tritunggal adalah hasil korupsi sejarah Gereja dan tidak ditemukan secara gamblang di Alkitab jika dibaca tanpa kacamata tradisi,.
- Doktrin "Gereja yang Tidak Terlihat" (Invisible Church): Untuk menjustifikasi keterputusan mereka dari sejarah hierarki Gereja yang terlihat selama 1500 tahun, tokoh seperti John Wycliffe (yang memengaruhi Luther) merumuskan doktrin "gereja yang tidak terlihat" serta doktrin "Kemurtadan Besar" (Great Apostasy),,,. Mereka mengajarkan bahwa Gereja telah murtad sejak zaman Kaisar Konstantinus, dan karenanya struktur gereja institusional tidak diperlukan,.
Sebagai kesimpulan, dari sejak abad kedua melalui Marsion dan Gnostik hingga era Reformasi Protestan, sejarah mencatat bahwa setiap kelompok yang ingin memperkenalkan teologi yang baru selalu mengawali langkahnya dengan mendekonstruksi, memotong, atau mengubah struktur otoritas dari Kitab Suci dan Tradisi Suci yang telah diwariskan oleh para Rasul dan dijaga oleh Konsili-Konsili Gereja.
Sedikti tentang Otentisitas Alkitab dan Alquran
Selamat datang dalam panduan belajar ini. Saya akan memandu Anda melalui lensa buku saya, "A History of Christianity: The First Three Thousand Years". Sebagai sejarawan, kita tidak melihat teks suci dari sudut pandang dogmatis atau teologis untuk menentukan agama mana yang "benar". Sebaliknya, kita mengamati buku-buku ini sebagai "gudang gagasan manusia" dan meneliti bagaimana narasi, tradisi, dan teks berevolusi sepanjang waktu.
Tiga agama besar yang berasal dari Timur Tengah—Yudaisme, Kekristenan, dan Islam—memusatkan praktik mereka pada sebuah kitab suci, dan ketiganya sering disebut sebagai "Agama Kitab" (Religions of the Book). Namun, pemahaman mereka tentang apa itu kitab suci sangatlah berbeda.
Berikut adalah panduan belajar untuk memahami argumen Islam tentang Alkitab dan membandingkan sejarah tekstual Alkitab dengan Al-Qur'an.
PANDUAN BELAJAR: SEJARAH TRANSMISI TEKS SUCI (ALKITAB & AL-QUR'AN)
Memahami Argumen Islam tentang Perubahan Teks (Tahrif)
Islam lahir pada abad ke-7 Masehi di Jazirah Arab, sebuah wilayah yang sudah terpapar dengan berbagai tradisi Yahudi dan Kristen.
- Posisi Teologis Islam: Al-Qur'an mengakui bahwa Taurat (diberikan kepada Musa), Zabur (kepada Daud), dan Injil (kepada Isa/Yesus) adalah wahyu yang sah dari Allah.
- Timbulnya Gesekan Historis: Ketika umat Islam awal berinteraksi lebih dalam dengan umat Kristen dan Yahudi, mereka menemukan bahwa isi Alkitab (Bibel) yang ada tidak selaras dengan teologi Al-Qur'an. Misalnya, Al-Qur'an secara eksplisit menyangkal penyaliban Yesus dan keilahiannya, sementara hal tersebut adalah inti dari Perjanjian Baru.
- Doktrin Tahrif: Untuk menjelaskan perbedaan ini, para sarjana Islam abad pertengahan mengembangkan doktrin Tahrif (korupsi/alterasi teks). Argumen ini menyatakan bahwa orang Yahudi dan Kristen telah mengubah, mengedit, atau menyembunyikan kebenaran dalam kitab-kitab mereka, baik secara harfiah (tahrif lafzi) maupun maknanya (tahrif ma'ani), sehingga kitab-kitab tersebut kehilangan bentuk aslinya.
- Akar Kesalahpahaman Konseptual: Dari sudut pandang sejarah, Islam berasumsi bahwa "Injil" adalah sebuah kitab yang didiktekan dari surga kepada Yesus, sama seperti Al-Qur'an diyakini didiktekan kepada Muhammad. Kekristenan tidak pernah meyakini hal itu. Bagi Kekristenan, Kristus itu sendiri adalah Firman Allah, dan Alkitab adalah kumpulan tulisan manusia yang bersaksi tentang Dia.
Fakta Sejarah — Apakah Alkitab "Diedit/ diubah"?
Dari kacamata sejarah dan kritik teks (textual criticism), apakah Alkitab diedit? Jawabannya adalah: Tentu saja, dan hal tersebut adalah proses historis yang sangat wajar.
- Alkitab Bukan Satu Buku: Alkitab bukanlah satu teks yang jatuh dari langit, melainkan sebuah perpustakaan. Ia ditulis oleh puluhan penulis, dalam tiga bahasa (Ibrani, Aram, Yunani), melintasi rentang waktu lebih dari 1.000 tahun.
- Proses Penyuntingan (Redaksi): Teks-teks Alkitab secara alami diedit, direvisi, dan digabungkan oleh para redaktur kuno. Misalnya, lima kitab pertama Musa (Pentateukh) menunjukkan bukti kuat adanya berbagai sumber tradisi yang disatukan dari waktu ke waktu.
- Varian Teks: Karena disalin secara manual oleh ribuan juru tulis (kopiis) selama berabad-abad, sejarah mencatat adanya ratusan ribu varian tekstual dalam naskah kuno Perjanjian Baru. Sebagian besar adalah kesalahan ejaan atau tata bahasa, namun ada pula penambahan teologis kecil (seperti cerita perempuan yang berzina dalam Yohanes 8, atau penutup panjang Injil Markus).
- Sifat Tradisi: Seperti yang saya tulis dalam sejarah Kekristenan, tradisi Alkitabiah bukanlah bangunan mekanis yang kaku, melainkan "seperti tanaman, berdenyut dengan kehidupan dan terus berubah bentuk sambil mempertahankan identitas utamanya." Gereja perdana berdebat berabad-abad untuk menentukan kanon (daftar kitab resmi) melalui konsili-konsili, berdasarkan teks mana yang paling setia pada tradisi kerasulan, bukan mencari teks yang tidak pernah tersentuh tangan penyalin.
Sejarah Teks Al-Qur'an — Apakah Lebih "Autentik"?
Ketika umat Islam mengklaim Al-Qur'an lebih "autentik", mereka biasanya merujuk pada stabilitas tekstual. Secara historis, hal ini memiliki dasar yang kuat, tetapi harus dipahami konteksnya.
- Rentang Waktu yang Pendek: Al-Qur'an dihasilkan oleh satu orang (Muhammad) dalam rentang waktu yang sangat singkat, yaitu sekitar 23 tahun (610–632 M). Ini sangat kontras dengan Alkitab yang memakan waktu seribu tahun lebih.
- Kanonisasi Utsmani (Uthmanic Recension): Sekitar 20 tahun setelah kematian Muhammad, Khalifah Utsman bin Affan menyadari bahwa mulai muncul variasi bacaan Al-Qur'an di berbagai wilayah taklukan Islam. Untuk mencegah perpecahan umat, Utsman memerintahkan penyusunan satu versi standar teks konsonan (Rasm Utsmani).
- Penghancuran Varian: Kebijakan historis yang membedakan Al-Qur'an dari Alkitab adalah: Utsman memerintahkan agar semua naskah atau fragmen Al-Qur'an yang berbeda dari versi standar ini dibakar atau dihancurkan. Akibat intervensi negara secara awal dan tegas ini, teks Al-Qur'an menjadi sangat seragam sejak abad ke-7 hingga hari ini.
- Arti "Autentik": Bagi seorang sejarawan, Al-Qur'an sangat stabil secara tekstual; kita bisa yakin bahwa teks yang ada saat ini secara substansial sama dengan yang distandardisasi pada masa Utsman. Namun, stabilitas teks tidak bisa diartikan sebagai "bukti kebenaran ilahi", melainkan bukti dari efisiensi kompilasi dan kontrol editorial terpusat di masa awal Islam.
Kesimpulan Historis
- Soal Pengeditan: Tuduhan Islam bahwa Alkitab "diubah/diedit" adalah fakta secara teknis historis (proses transmisi, penerjemahan, dan varian penyalinan), namun Islam menafsirkannya sebagai konspirasi jahat (Tahrif), sedangkan sejarawan melihatnya sebagai proses alami bagaimana teks kuno dari budaya pra-cetak bertahan hidup.
- Soal Autentisitas: Jika "autentik" diartikan sebagai "memiliki bentuk teks yang paling stabil, tunggal, dan tidak memiliki banyak variasi naskah sejak awal kemunculannya", maka Al-Qur'an memang memiliki stabilitas transmisi teks yang lebih seragam dibandingkan Alkitab. Hal ini terjadi karena kanonisasinya didikte oleh satu penguasa politik tunggal di masa awal keberadaannya, dibandingkan Alkitab yang bertumbuh secara organik melintasi berbagai kerajaan, benua, dan milenia.
Sejarah Kekristenan (dan sejarah semua agama) menunjukkan bahwa kecemasan era modern tentang "otoritas harfiah" teks sering kali mengabaikan fakta sejarah yang kaya. Kitab suci adalah warisan perjumpaan umat manusia dengan yang Ilahi, ditulis dan dijaga oleh tangan-tangan manusia yang fana namun dipenuhi semangat keimanan pada zamannya.