Dalam tradisi Philokalia, Kepengecutan (Cowardice / Fear) tidak dipandang sekadar sebagai emosi takut yang alami, melainkan sebagai penyakit spiritual dan hawa nafsu yang melumpuhkan kemampuan manusia untuk bertempur secara rohani.
Berikut adalah kupasan mendalam mengenai karakteristik, dampak, dan terapi untuk menyembuhkan hawa nafsu Kepengecutan:
1. Karakteristik Kepengecutan: Kelemahan Batin dan Defisit Iman
- Kebalikan dari Keberanian: St. Petrus dari Damaskos menjelaskan bahwa setiap kebajikan berada di tengah-tengah dua hawa nafsu yang tidak wajar. Keberanian sejati berada tepat di tengah, sedangkan kepengecutan (cowardice) adalah bentuk defisiensi (kekurangan), dan sifat terlalu mendominasi (overbearingness) adalah bentuk eksesnya.
- Melarikan Diri Seperti Anjing: Meskipun kepengecutan dan sifat suka mendominasi tampak berlawanan, keduanya sama-sama berakar dari kelemahan batin. Jika sifat mendominasi terlihat menakutkan dari luar, kepengecutan membuat seseorang melarikan diri layaknya seekor anjing yang dikejar.
- Gemetar Tanpa Alasan (Ketakutan Irasional): Orang yang tidak memiliki kemurnian hati dan tidak pernah berlatih dalam peperangan spiritual akan menjadi budak dan pelayan dari kepengecutan. Ia akan gemetar seperti bayi dan merasa takut di tempat yang sebenarnya tidak ada alasan untuk merasa takut.
- Lari dari Penderitaan: Kepengecutan bermanifestasi secara nyata ketika seseorang lari terbirit-birit ketakutan menghindari cobaan atau penderitaan yang datang akibat mempraktikkan kebajikan. Orang yang pengecut tidak menaruh kepercayaannya kepada Tuhan, sehingga ia mustahil bisa berdiri teguh dalam pertempuran.
2. Dampak Destruktif pada Jiwa
- Membuka Celah Kekalahan: St. Antony Agung mengajarkan bahwa kita tidak bisa mengontrol apakah godaan akan menyerang kita atau tidak, tetapi kita berkuasa menolaknya. Namun, karena kemalasan dan kepengecutan, seseorang sering kali membiarkan pikiran penuh hawa nafsu itu menetap dan mengalahkannya, yang pada akhirnya akan mendatangkan hukuman bagi jiwanya.
- Kerusakan Daya Amarah (Incensive Power): Kepengecutan memiliki hubungan erat yang mengejutkan dengan amarah. Ketika daya juang atau daya amarah di dalam jiwa terus-menerus dirangsang dan salah sasaran, pada akhirnya jiwa tersebut akan terkuras habis dan berubah menjadi pengecut serta kehilangan kejantanannya (cowardly and unmanly).
3. Terapi dan Obat Penawar dari Philokalia Untuk menyembuhkan kepengecutan, Bapa Gereja tidak menyarankan konfrontasi fisik, melainkan serangkaian terapi batin yang spesifik:
- Praktik Keberanian Sejati: Obat utama kepengecutan adalah keberanian. Namun keberanian ini tidak berarti menindas atau mengalahkan sesama manusia. Keberanian sejati adalah bertahan dalam setiap perbuatan baik dan berjuang menaklukkan hawa nafsu jiwa serta tubuh. Peperangan kita bukanlah melawan darah dan daging, melainkan melawan kekuatan iblis yang tak kasat mata.
- Mempraktikkan Cinta dan Belas Kasih: Karena kepengecutan lahir dari daya amarah yang rusak dan terlalu sering dirangsang, Bapa Gereja meresepkan bahwa sifat pengecut ini harus disembuhkan melalui kebaikan (kindness), belas kasih (compassion), cinta (love), dan kemurahan hati (mercy).
- Mengganti Takut Duniawi dengan Takut akan Tuhan: Orang yang telah mencapai pemurnian hati akan sepenuhnya menang atas kepengecutan. Siapa pun yang memiliki Takut akan Tuhan di dalam dirinya tidak akan pernah takut pada serangan iblis yang sakit-sakitan ataupun ancaman manusia jahat. Ia berjalan siang dan malam mengenakan baju zirah iman yang tak terkalahkan, membuat iblis justru lari darinya agar tidak hangus oleh api ilahi yang ada padanya.