May 18, 2026
Author
Andronikus
Teologi Kristen Orthodox tidak dapat dipisahkan satu sama lain, karena jaminan dan realitas keselamatan manusia (soteriologi) bertumpu sepenuhnya pada identitas hakiki dari Pribadi yang menyelamatkan, yaitu Yesus Kristus (kristologi). Apabila Kristus bukan Allah sejati yang sungguh-sungguh menjadi manusia, maka keselamatan tidak mungkin terjadi.
Berikut adalah elaborasi mendalam mengenai kedua dogma tersebut
Kristologi Ortodoks bertitik tolak pada pengakuan bahwa Yesus Kristus adalah Pribadi Kedua dari Tritunggal Mahakudus, Sang Firman (Logos) kekal yang merupakan Allah sejati dari Allah sejati, sehakikat (homoousios) dengan Allah Bapa.
Intisari Kristologi dirumuskan secara definitif pada Konsili Kalsedon (451 M) melalui dogma Persatuan Hipostatis (Hypostatic Union). Dogma ini menetapkan bahwa di dalam satu Pribadi (Hipostasis) Yesus Kristus, terdapat dua kodrat yang utuh—yaitu kodrat ilahi yang sempurna dan kodrat manusia yang sempurna. Kedua kodrat ini bersatu dalam diri Kristus "tanpa percampuran, tanpa perubahan, tanpa pembagian, dan tanpa pemisahan" (unconfusedly, unchangeably, indivisibly, inseparably). Sebagai akibat dari persatuan dua kodrat yang utuh ini, Kristus juga memiliki dua kehendak (kehendak ilahi dan kehendak manusiawi) serta dua operasi energi yang bekerja secara harmonis, di mana kehendak manusiawi-Nya menundukkan diri secara sempurna tanpa perlawanan kepada kehendak Bapa-Nya.
Untuk merespons heresi yang menolak keilahian Kristus hanya karena Dia menunjukkan kelemahan manusiawi, Santo Athanasius merumuskan prinsip Double Account (Eksegesis Partitif). Prinsip ini menegaskan bahwa segala sesuatu yang menunjukkan kekuasaan, keabadian, dan penciptaan merujuk secara eksklusif pada keilahian-Nya; sementara segala sesuatu yang menunjukkan keterbatasan, penderitaan, rasa lapar, ketidaktahuan, hingga seruan di atas kayu salib, merujuk secara eksklusif pada kemanusiaan-Nya yang dikenakan dalam peristiwa Kenosis (pengosongan diri). Kristus tidak berpura-pura menderita (menolak Doketisme), melainkan Ia sungguh-sungguh mengambil daging yang dapat mati dan menderita agar dapat membebaskan umat manusia dari penderitaan dan maut tersebut
Di dalam jantung iman Kristen, Yesus Kristus bukanlah sekadar nabi, guru moral, atau makhluk ciptaan yang agung, melainkan Pribadi Kedua dari Tritunggal Mahakudus, yakni Sang Firman (Logos) dan Anak Tunggal Allah. Syahadat Nicea-Konstantinopel menegaskan keilahian-Nya secara mutlak dengan menyatakan bahwa Ia "diperanakkan dari Bapa sebelum segala abad; Terang dari Terang, Allah sejati dari Allah sejati; diperanakkan, bukan dibuat, sehakikat (homoousios) dengan Bapa". Kesetaraan esensi (hakikat) ini menempatkan Kristus sebagai Sang Pencipta itu sendiri, di mana "segala sesuatu dijadikan oleh-Nya"
Di dalam jantung iman Kristen Ortodoks, Yesus Kristus tidak dipahami sekadar sebagai nabi atau manusia agung, melainkan Pribadi Kedua dari Tritunggal Mahakudus yang kekal, yaitu Sang Firman (Logos) Allah. Ia tidak diciptakan, melainkan ada sebelum segala abad dan sehakikat dengan Allah Bapa.
Untuk menyelamatkan umat manusia, Anak Allah yang kekal ini turun dari surga dan berinkarnasi dari Roh Kudus dan Perawan Maria, menjadi manusia yang sesungguhnya. Misteri ini dirumuskan secara definitif pada Konsili Kalsedon (451 M) yang menyatakan bahwa Yesus Kristus adalah satu Pribadi (Hipostasis) yang memiliki dua kodrat yang sempurna: kodrat ilahi dan kodrat manusiawi. Kedua kodrat ini bersatu di dalam diri-Nya "tanpa percampuran, tanpa perubahan, tanpa pembagian, dan tanpa pemisahan" (asynchytos, atreptos, adiairetos, achoristos).
Sebagai konsekuensi dari dua kodrat yang utuh tersebut, Kristus juga memiliki dua kehendak (kehendak ilahi dan kehendak manusiawi) serta dua operasi (energi), di mana kehendak manusiawi-Nya menundukkan diri secara sempurna kepada kehendak Bapa tanpa pertentangan
Dogma ini secara langsung menolak dua bidat besar: Nestorianisme, yang membelah Kristus menjadi dua pribadi (Pribadi Allah dan Pribadi Manusia) yang hanya diikat oleh hubungan moral, serta Monofisitisme, yang melebur kemanusiaan Kristus ke dalam keilahian-Nya sehingga Ia seolah-olah hanya memiliki satu kodrat ilahi. Dalam Kristus tidak ada "pribadi manusia" yang terpisah; kemanusiaan-Nya di-enhypostasi-kan (dijadikan eksis) secara langsung di dalam Pribadi ilahi Sang Firman
Eksegesis Partitif (Double Account) dan Komunikasi Idiom Karena Kristus adalah satu Pribadi dalam dua kodrat, segala tindakan dan sifat-Nya (idiom) dapat disematkan kepada satu Pribadi tersebut. Santo Athanasius merumuskan prinsip Double Account (Catatan Ganda) untuk membaca Kitab Suci tanpa terjebak dalam kesesatan.
Peristiwa Inkarnasi dipahami sebagai Kenosis (pengosongan diri) yang di mana Sang Firman mengambil rupa hamba, menyerahkan kemuliaan-Nya demi merengkuh kondisi kodrat manusia yang jatuh—termasuk penderitaan, kesedihan, dan maut—namun tanpa pernah kehilangan kodrat ilahi-Nya.
Untuk memahami teks-teks Kitab Suci yang tampaknya kontradiktif mengenai Kristus, Santo Athanasius merumuskan prinsip Double Account (Eksegesis Partitif). Prinsip ini menegaskan bahwa Kitab Suci memberikan catatan ganda mengenai Sang Juruselamat: segala sesuatu yang menunjukkan kemuliaan, penciptaan, dan keabadian merujuk secara eksklusif pada keilahian-Nya; sementara segala sesuatu yang menunjukkan kelemahan, ketidaktahuan, tangisan, hingga penderitaan di kayu salib merujuk secara eksklusif pada kemanusiaan-Nya yang Dia kenakan demi kita. Namun, sangat penting untuk diingat bahwa seluruh tindakan keilahian maupun penderitaan kemanusiaan tersebut dialami dan dilakukan oleh satu subjek (Pribadi) yang sama, yaitu Sang Firman Allah
Kristologi dalam tradisi Ortodoks selalu bersifat soteriologis; Kristus menjadi manusia semata-mata agar manusia dapat diselamatkan. Karya penebusan-Nya bukan sekadar pemenuhan tuntutan hukum penal (pembayaran utang kepada keadilan Allah), melainkan sebuah penyembuhan ontologis bagi kodrat manusia.
Athanasius dan para Bapa Gereja merangkum tujuan Inkarnasi ini dalam kalimat agung: "Allah menjadi manusia agar manusia dapat menjadi allah" (Theosis atau deifikasi). Karena maut dan dosa telah menawan umat manusia, Firman yang abadi mengambil tubuh yang dapat mati agar Ia dapat mempersembahkan tubuh itu kepada maut, masuk ke dalam alam maut (Hades), dan menghancurkan maut dari dalam. Kematian dan kebangkitan-Nya pada hari ketiga (Misteri Paskah) menaklukkan kutuk, menghancurkan Iblis, dan menjadikan Kristus sebagai "buah sulung" (ciptaan baru) yang menyingkapkan jalan bagi kebangkitan seluruh umat manusia.
Soteriologi Ortodoks berpusat pada penyembuhan kodrat manusia yang jatuh serta pencapaian Deifikasi atau Theosis. Berbeda dengan pandangan teologi Barat (skolastik) yang sering kali mereduksi karya keselamatan sebagai pelunasan utang hukum (teori kepuasan/substitusi penal) untuk memuaskan murka Allah, teologi Timur memandang keselamatan sebagai proses terapeutik (penyembuhan) dan ontologis. Ketika Adam jatuh ke dalam dosa, manusia terseret ke dalam belenggu maut, penderitaan, dan kebinasaan yang menjauhkannya dari Allah.
Karena manusia yang diciptakan menurut gambar Allah sedang menuju kebinasaan, Sang Firman tidak membiarkan ciptaan-Nya musnah. Ia berinkarnasi mengambil tubuh fisik agar dapat menyerahkan tubuh itu kepada maut, sehingga Ia dapat menghancurkan maut dari dalam dan menghentikan hukum kebinasaan yang mengikat manusia. Tujuan akhir dari karya penebusan ini dirangkum secara padat oleh Santo Athanasius: "Ia menjadi manusia agar kita dapat dijadikan allah". Melalui keikutsertaan dalam kemanusiaan Kristus, umat manusia dimampukan untuk mengambil bagian di dalam kodrat ilahi (sebagai anugerah, bukan secara hakikat), yang dikenal sebagai proses Theosis.
Salib dan Kebangkitan adalah pusat dari pencapaian ini. Di kayu salib, kematian bukan dipandang sebagai pembayaran kepada iblis, melainkan sebagai penaklukan iblis dan maut itu sendiri. Melalui kematian-Nya, Kristus "menginjak-injak maut dengan maut", dan menjadikan salib sebagai trofi kemenangan. Kebangkitan Kristus pada hari ketiga merupakan bukti bahwa maut telah dihancurkan dan tubuh-Nya telah menjadi tubuh yang tidak dapat binasa, yang menjadikan Kristus sebagai buah sulung yang membuka jalan bagi kebangkitan dan keabadian seluruh umat manusia kelak.

Secara soteriologis, meskipun Kristus telah menyediakan rahmat penebusan ini secara universal, keselamatan individu hanya direalisasikan melalui sinergi (kerja sama) antara anugerah Allah dan kehendak bebas manusia. Allah tidak menyelamatkan manusia secara paksa. Manusia dipanggil untuk menyerap keselamatan ini dengan berpartisipasi secara langsung di dalam Misteri (Sakramen) Gereja.
Di dalam Sakramen Baptisan, manusia ditenggelamkan ke dalam kematian Kristus dan dibangkitkan untuk memulai kehidupan yang baru, melucuti manusia lama dan memperoleh pengampunan dosa. Di dalam Sakramen Ekaristi, proses penyatuan ini disempurnakan ketika manusia memakan Tubuh dan meminum Darah Kristus, sehingga manusia sungguh-sungguh menyatu secara organik dengan kemanusiaan Kristus yang telah dideifikasi tersebut. Melalui sakramen-sakramen inilah kehidupan ilahi disalurkan, membimbing akal budi, tubuh, dan jiwa manusia menuju kepenuhan Theosis di dalam Kerajaan Allah.
Dalam teologi dogmatis, karya Kristus ini tidak berhenti sebagai peristiwa sejarah di masa lalu, melainkan diaktualisasikan pada masa kini melalui Gereja (yang adalah Tubuh-Nya) dan Sakramen-Sakramen.
Santo Nikolas Cabasilas secara luar biasa menggambarkan bagaimana persekutuan kita dengan Kristus terjadi secara riil (bukan metaforis) melalui Misteri Suci. Di dalam Baptisan, kita dikuburkan bersama Kristus dan dilahirkan kembali. Sementara di dalam Sakramen Ekaristi, Kristus mengomunikasikan hidup-Nya kepada kita: daging-Nya menjadi daging kita, darah-Nya mengalir di dalam pembuluh darah kita, dan roh kita disatukan dengan Roh-Nya. Ekaristi adalah pengaplikasian Penebusan, atau yang oleh Santo Ignatius dari Antiokhia disebut sebagai "obat keabadian" yang menyembuhkan jiwa umat manusia
Di kayu salib dan melalui kebangkitan-Nya, maut ditelan oleh Kehidupan. Dengan memasukkan kemanusiaan yang tak terpisahkan dari-Nya ke dalam maut, Kristus menghancurkan maut dari dalam dan bangkit dengan tubuh spiritual yang tidak dapat binasa, menjadi yang sulung bagi umat manusia. Dengan mengasumsi kemanusiaan secara utuh (tubuh, jiwa, akal budi, dan kehendak), Sang Sabda memampukan umat manusia untuk diangkat masuk ke dalam persekutuan kasih Tritunggal. Melalui Sakramen (terutama Baptsan dan Ekaristi), manusia disatukan secara organik dengan kemanusiaan Kristus yang telah dimuliakan ini, sehingga dapat berpartisipasi secara riil di dalam energi ilahi menuju kepenuhan Theosis.
Puncak dari seluruh pewahyuan ilahi dan janji keselamatan berujung pada kedatangan kembali (Parousia) Yesus Kristus dengan kemuliaan yang paripurna di akhir zaman. Kedatangan ini ditandai dengan kebangkitan tubuh dan Pengadilan Terakhir
Gereja Timur menolak keras pemahaman bahwa Penebusan adalah sekadar transaksi hukum (yuridis), seperti pelunasan utang demi memuaskan murka keadilan Allah Bapa. Gereja juga menolak teori populer di abad-abad awal bahwa Kristus diserahkan sebagai "tebusan" kepada Iblis, seolah-olah Iblis memiliki hak yang sah atas manusia yang berdosa.
Dosa sebagai Penyakit, Kristus sebagai Tabib (Penyembuhan Hakikat) Kekristenan Ortodoks memandang dosa pertama-tama sebagai "penyakit" rohani yang mematikan kodrat manusia dan mengasingkannya dari Allah, bukan sekadar pelanggaran atas seperangkat aturan hukum. Karena itu, Kristus datang sebagai Tabib Agung untuk mengobati penyakit tersebut secara nyata di dalam kodrat manusia-Nya sendiri.
Kematian untuk Menghancurkan Maut dari Dalam (Penaklukan Ontologis) Jika Penebusan hanyalah transaksi, Kristus cukup menyatakan pengampunan dari Surga. Namun, karena kebinasaan (maut) telah terjalin dan meresap ke dalam tubuh jasmani manusia, maka Kehidupan (Sang Sabda) harus secara ontologis ditenun bersama-sama dengan tubuh jasmani untuk dapat mengusir maut tersebut.
Menyelami Kutuk Dosa untuk Mentransmutasikannya Kristus dengan bebas dan rela menundukkan diri-Nya pada konsekuensi terburuk dari kondisi manusia kita—termasuk maut, derita, dan keterasingan di kayu salib. Ia mengasumsi (mengenakan) keadaan ini agar dapat menyembuhkannya.
Keselamatan sebagai Hidup yang Dikomunikasikan (Theosis) Penebusan mencapai puncaknya bukan pada saat status hukum kita berubah menjadi "tidak bersalah", melainkan pada saat hidup dan kemuliaan ilahi Allah kembali dikomunikasikan secara nyata ke dalam kodrat kita.
Sebaliknya, Penebusan pada hakikatnya adalah proses terapeutik (penyembuhan) dan pemulihan ontologis bagi kemanusiaan. Melalui peristiwa Kenosis (pengosongan diri), Allah Sang Sabda merendahkan diri-Nya, mengambil "rupa hamba," dan secara sukarela menundukkan diri pada kondisi kemanusiaan kita yang fana. Ia mengasumsi penderitaan, kesedihan, dan maut—bukan karena kodrat Ilahi-Nya dapat menderita, melainkan Ia menanggungnya melalui kemanusiaan-Nya untuk menyembuhkan semua itu dari dalam. Di Getsemani dan di atas Kayu Salib, kehendak manusiawi Kristus dengan taat menundukkan diri sepenuhnya kepada kehendak Bapa tanpa pertentangan, sehingga meluruskan pemberontakan Adam dan menghancurkan akar dosa
Dalam pandangan Kristen, kematian bukanlah sesuatu yang wajar atau sekadar siklus alami, melainkan sebuah kelainan, musuh Allah, dan konsekuensi tragis dari keterpisahan manusia akibat dosa. Karena Sang Sabda tidak dapat mati dalam keilahian-Nya (karena Ia adalah Kehidupan itu sendiri), Ia secara khusus mengambil tubuh yang dapat mati untuk diserahkan kepada maut sebagai substitusi bagi semua orang.
Ketika Kristus wafat, jiwa-Nya turun ke alam maut (Hades/Sheol). Namun, karena Pribadi yang memasuki maut adalah Allah sendiri, maut tidak mampu menahan-Nya. Kematian mencoba menelan Kristus layaknya umpan manusia biasa, tetapi "kail" keilahian-Nya menghancurkan maut dari dalam. Melalui kematian-Nya, Kristus menghancurkan gerbang Hades, membebaskan para tawanan (seperti Adam, Hawa, dan para nabi), dan mengubah kegelapan maut dengan terang ilahi-Nya. Dengan demikian, Salib bukanlah kekalahan, melainkan instrumen kemenangan mutlak atas kuasa maut dan Iblis
Kebangkitan Kristus adalah pusat dan jantung dari seluruh iman serta teologi Kristen. Melalui Kebangkitan pada hari ketiga, Kristus tidak hanya hidup kembali seperti Lazarus yang kelak akan mati lagi, tetapi Ia secara fundamental mengubah sifat kematian itu sendiri. Kematian bukan lagi sebuah jalan buntu atau akhir yang membinasakan, melainkan telah diubah menjadi "pintu" atau lorong menuju Kerajaan Allah.
Tubuh Kristus yang bangkit adalah tubuh spiritual yang telah dimuliakan dan dideifikasi secara sempurna. Tubuh-Nya ini menaklukkan batasan-batasan ruang dan materi, mampu menembus pintu yang terkunci, namun tetap nyata dan dapat disentuh oleh para murid-Nya. Kebangkitan-Nya menjadikan Kristus sebagai "buah sulung" (first-fruits) yang memberikan jaminan kepastian akan kebangkitan fisik bagi seluruh umat manusia di akhir zaman. Karena Kristus telah bangkit, seluruh kosmos kini ditransfigurasi dan diorientasikan pada kehidupan kekal
Deifikasi (Theosis) dan Partisipasi Sakramental Segala sesuatu di dalam Kristologi dan Penebusan bermuara pada satu tujuan akhir: Theosis (Deifikasi). Seperti yang dirangkum oleh Santo Athanasius dan para Bapa Gereja lainnya, "Allah menjadi manusia agar manusia dapat menjadi allah". Penebusan bukan sekadar agar manusia luput dari neraka, melainkan agar manusia diangkat untuk berpartisipasi dan mengambil bagian secara riil di dalam kodrat dan energi Ilahi melalui kasih karunia
Karya Penebusan dan Kebangkitan ini tidak bekerja secara magis dari jarak jauh yang langsung mengenai semua orang tanpa kehendak mereka, melainkan harus diaplikasikan secara nyata dan personal melalui Misteri (Sakramen) di dalam Gereja. Di dalam Sakramen Baptisan, manusia secara mistis ikut mati, dikuburkan bersama Kristus, dan dibangkitkan ke dalam wujud ciptaan yang baru. Selanjutnya, melalui Sakramen Ekaristi, manusia menyantap Tubuh dan Darah Kristus yang telah bangkit. Santapan ini mengubah manusia dari dalam, bertindak sebagai "obat keabadian" yang menyatukan eksistensi jasmani dan rohani manusia dengan kehidupan Allah Tritunggal yang tidak dapat binasa. Penebusan Kristus adalah realitas yang hidup dan dirayakan tanpa henti di dalam persekutuan Gereja sebagai penantian menuju Kerajaan Allah yang paripurna. Karya pendamaian (atonement) dan penebusan (redemption) oleh Yesus Kristus adalah jantung dari pemahaman Kristen Ortodoks mengenai keselamatan. Dalam teologi Ortodoks, penebusan tidak direduksi sekadar sebagai transaksi hukum atau pembebasan dari murka Allah, melainkan dipahami sebagai proses penyembuhan (terapeutik) yang memulihkan kodrat manusia yang jatuh dan menaklukkan maut
Teologi Ortodoks secara tegas menolak pandangan Skolastik Abad Pertengahan di Barat (yang dikembangkan oleh Anselmus) yang melihat pendamaian sebagai pemuasan (satisfaction) atas keadilan atau kehormatan Allah Bapa yang terluka akibat dosa,,. Dalam pandangan Barat tersebut, dosa adalah utang tak terhingga yang mengharuskan hukuman berdarah untuk meredakan kemarahan Allah,. Ortodoksi mengajarkan bahwa Kristus tidak menyelamatkan kita dari "Allah yang marah atau pendendam" untuk memuaskan keadilan-Nya,. Sebaliknya, Santo Gregorius dari Nazianzus menegaskan bahwa Kristus mempersembahkan diri-Nya sebagai korban bukan karena Allah Bapa menuntut atau membutuhkan pengorbanan tersebut, melainkan karena kitalah yang membutuhkannya; manusia membutuhkan Allah yang berinkarnasi dan mati agar maut dapat dihancurkan dari dalam
keselamatan dan kemenangan Kristus atas maut dijelaskan melalui berbagai metafora Alkitabiah, salah satunya adalah konsep "tebusan" (ransom atau lutron). Pemahaman yang benar mengenai tebusan ini sangat penting agar kita tidak jatuh pada pandangan transaksional atau legalistik yang menyimpang dari kasih dan hakikat Allah.
1. Dasar Firman Tuhan Mengenai "Tebusan" Kitab Suci sering menggunakan istilah tebusan untuk menggambarkan karya keselamatan Kristus:
2. Metafora "Kail dan Umpan" (Penipuan Ilahi terhadap Iblis) Pada abad-abad awal, beberapa Bapa Gereja (seperti Origenes, Irenaeus, dan khususnya Gregorius dari Nyssa) berusaha menjelaskan bagaimana Iblis dilucuti kekuasaannya melalui metafora "kail dan umpan" (divine ruse). Karena manusia jatuh ke dalam dosa akibat tipu daya, Iblis merasa memiliki hak kepemilikan atas manusia. Untuk membebaskan manusia, Kristus turun ke dunia dan menyerahkan kemanusiaan-Nya. Di dalam metafora ini, kemanusiaan Kristus berfungsi sebagai "umpan" yang menyembunyikan "kail" berupa keilahian-Nya yang mutlak
Iblis, yang mengira Kristus hanyalah manusia biasa yang bisa ditaklukkan, menerkam dan menelan umpan tersebut dengan menyalibkan-Nya dan membawa jiwa-Nya ke alam maut (Hades). Namun, karena Kristus adalah Allah, Iblis tertusuk oleh "kail" keilahian itu; maut dan Iblis tidak mampu menahan Sang Pencipta Kehidupan. Melalui cara inilah maut dihancurkan dari dalam, dan Iblis kehilangan tawanannya secara adil karena ia telah melampaui batas kewenangannya dengan mencoba membunuh Yang Maha Suci. Penjelasan ini, meski elegan pada masanya, hanyalah sebuah simbolisme untuk menggambarkan kemenangan Kristus.
3. Penolakan Gregorius dari Nazianzus terhadap Transaksi Pembayaran Seiring berjalannya waktu, metafora ini berisiko disalahpahami sebagai sebuah transaksi hukum yang harfiah, di mana Allah seolah-olah "berutang" kepada Iblis. Santo Gregorius dari Nazianzus secara eksplisit dan tegas menolak gagasan bahwa Kristus dipersembahkan sebagai pembayaran harfiah kepada Iblis. Iblis adalah pemberontak; ia tidak memiliki "hak" yurisdiksi yang sah atas ciptaan Allah sehingga Allah harus membayarnya dengan darah Putra-Nya.
Selain itu, Gregorius dari Nazianzus juga menolak gagasan bahwa darah Kristus dibayarkan kepada Allah Bapa untuk memuaskan tuntutan keadilan atau kemarahan Bapa. Bapa menerima pengorbanan Putra-Nya bukan karena Allah menuntut atau membutuhkan pengorbanan darah tersebut, melainkan semata-mata karena "ekonomi keselamatan" (oikonomia). Manusia membutuhkan Allah yang berinkarnasi, menderita, dan mengalahkan maut dari dalam agar kodrat manusia disucikan dan dibebaskan
4. Tebusan sebagai Kemerdekaan (Pembebasan) Dalam teologi Ortodoks, kata "tebusan" harus dipahami sebagai metafora (salah satu dari banyak metafora lainnya) untuk menandakan pembebasan manusia dari dominasi dosa, maut, dan Iblis, bukan sebuah transaksi pembayaran harfiah. Membekukan gambaran ini menjadi sebuah relasi hukum antara Allah dan ciptaan berarti membangun sistem teologi yang cacat.
Tebusan Kristus adalah tindakan penyelamatan di mana Kristus mengikat "orang kuat" (Satan) dan merampas kembali umat manusia yang ditawannya, bukan dengan membayar Iblis, melainkan dengan membatalkan kuasa kematian melalui kebangkitan-Nya. Hal ini digemakan dalam firman Tuhan:
Kemenangan atas maut tidak diraih dengan melunasi utang kepada Iblis, melainkan dengan Inkarnasi dan Kebangkitan. Kristus, Sang Kehidupan, memasuki alam maut, menghancurkan gerbangnya, dan menarik kodrat manusia kembali kepada Allah agar manusia dapat mencapai Theosis (penyatuan ilahi)
1. Arianisme: Penyangkalan terhadap Keilahian Kristus
2. Apollinarianisme: Penyangkalan terhadap Kemanusiaan Utuh
3. Nestorianisme: Pemisahan Pribadi dan Penolakan Theotokos
4. Monofisitisme: Peleburan Kodrat Kristus
5. Apollinarianisme: Menyangkal Penebusan Manusia Seutuhnya
6. Messalianisme (Euchites): Menyangkal Rahmat Sakramental Gereja
Karya Kristus (Penebusan/Atonement) Meskipun mungkin menyembah Kristus yang sama, Ortodoks dan aliran Karismatik/Pentakosta (yang juga dipengaruhi oleh teologi Evangelis) memiliki perbedaan mendasar mengenai tujuan penyaliban Kristus, Konsep Kristologi di sebagian besar denominasi Pentakosta dan Karismatik kontemporer pada dasarnya berpegang teguh pada kerangka Kalsedon (Nicea), yang meyakini bahwa Yesus Kristus adalah Pribadi yang sepenuhnya Allah dan sepenuhnya manusia. Para teolog Pentakosta modern banyak mengembangkan pendekatan yang disebut "Kristologi Roh" (Spirit Christology), di mana mereka berusaha mengintegrasikan pemahaman bahwa Yesus adalah pembawa sekaligus pemberi Roh Kudus ke dalam kerangka klasik Kristologi Logos (Firman) dari konsili-konsili gereja. Secara historis, seorang pelopor gerakan ini yang bernama Edward Irving pernah mengajarkan bidat bahwa Yesus mengambil kemanusiaan yang jatuh ke dalam dosa (daging yang berdosa) dan hanya luput dari dosa setelah diurapi Roh Kudus saat baptisan-Nya, namun ajaran ini beruntungnya telah ditinggalkan oleh sebagian besar gereja Pentakosta dan Karismatik saat ini
Di sisi lain, terdapat satu cabang besar dalam gerakan ini, yaitu Pentakosta Keesaan (Oneness Pentecostalism), yang memiliki pandangan Kristologi dan Teologi yang secara spesifik menolak doktrin Tritunggal. Kelompok ini meyakini bahwa istilah Bapa, Putra, dan Roh Kudus bukanlah tiga Pribadi yang berbeda secara kekal, melainkan sekadar gelar atau cara (mode) Allah bermanifestasi dalam peran yang berbeda-beda. Mereka memandang Allah sebagai roh yang unipersonal (satu pribadi) dan hadir di mana-mana (omnipresent), yang kemudian menjadi manusia seutuhnya dalam peristiwa inkarnasi. Dalam pemahaman mereka, "Bapa" merujuk pada Allah dalam keberadaan-Nya sebagai roh murni, sedangkan "Putra" merujuk pada Allah dalam keberadaan-Nya sebagai roh sekaligus daging (sebagai manusia seutuhnya)
Meskipun fondasi dogmatisnya sangat berbeda, konsep Kristus di kalangan denominasi ini (terutama kelompok Keesaan) memiliki sejumlah persamaan yang mengejutkan, sekaligus perbedaan yang tidak dapat didamaikan dengan teologi Ortodoks.
Teologi Ortodoks dan Pentakosta Keesaan nyatanya sama-sama meyakini secara mutlak bahwa Yesus Kristus adalah Allah sejati dan manusia sejati. Keduanya mengamini adanya realitas keilahian yang berinkarnasi secara fisik namun tetap hadir di mana-mana secara rohani. Keduanya memandang bahwa semua tindakan Yesus dilakukan oleh keseluruhan Pribadi-Nya secara utuh; di mana kemampuan-Nya untuk merasa lapar atau berdoa berasal murni dari kemanusiaan-Nya, sementara kemampuan-Nya mengampuni dosa berasal dari keilahian-Nya. Lebih jauh lagi, keduanya sepakat bahwa Yesus memiliki dua kehendak, yakni kehendak ilahi dan kehendak manusiawi, yang mana kehendak manusiawi tersebut senantiasa tunduk tanpa konflik kepada kehendak ilahi. Keduanya juga melihat Yesus Kristus Sang Firman (Logos) sebagai mediator tunggal yang menjembatani Allah dengan alam semesta dan manusia
Perbedaan teologis terbesar antara keduanya terletak pada penolakan terhadap konsep Tritunggal dan sifat relasi di dalam Diri Allah. Kelompok Pentakosta Keesaan (Oneness) percaya bahwa Allah masuk ke dalam mode keberadaan yang baru pada saat inkarnasi, dan dengan demikian "menciptakan" sebuah relasi baru di dalam Diri-Nya sendiri. Mereka memandang interaksi kasih dan doa antara Bapa dan Putra di dalam Injil sebagai relasi antara mode Allah yang lama (sebagai Roh) dengan mode keberadaan-Nya yang baru (sebagai manusia/daging).
Sebaliknya, Gereja Ortodoks memandang bahwa hakikat (esensi) Allah itu abadi dan tidak pernah berubah. Ortodoks meyakini bahwa relasi kasih yang terekam di dalam Injil bukanlah relasi yang "baru diciptakan", melainkan menyingkapkan relasi antarpribadi yang sudah ada secara kekal sejak sebelum dunia dijadikan, yakni antara Sang Bapa dan Sang Firman (Logos). Bagi umat Ortodoks, Bapa dan Putra adalah Pribadi-Pribadi yang benar-benar berbeda (distinct persons), namun senantiasa bersatu secara utuh dalam satu esensi ilahi (sehakikat). Sang Bapa dipahami sebagai Pribadi Allah yang berada di luar ruang dan waktu, sementara Sang Logos dipahami sebagai Pribadi Allah yang beroperasi di dalam alam semesta, bertindak sebagai perantara yang memberikan struktur rasional pada ciptaan, dan yang menjelma menjadi manusia di dalam sejarah.
Selain itu, dalam pendekatan Kristologi Roh yang banyak dianut oleh denominasi Karismatik saat ini, sering kali ada kecenderungan kuat untuk melihat kehidupan Yesus murni sebagai paradigma atau model bagi kehidupan umat percaya di dalam Roh Kudus. Apabila pemahaman ini tidak diikat oleh fondasi Kristologi yang seimbang (seperti pada teologi dogma Tritunggal Ortodoks), fokus yang berlebihan pada tindakan Roh Kudus ini dapat berisiko mereduksi Pribadi Kristus hanya pada karya penyelamatan-Nya semata, alih-alih menyembah-Nya sebagai Pribadi Ilahi
Pandangan teologis yang keliru mengenai predestinasi—terutama yang berkaitan dengan ayat-ayat firman Tuhan tentang pemilihan "sebelum dunia dijadikan"—berakar pada pemahaman determinisme absolut yang berkembang di Barat, seperti ajaran predestinasi ganda (double predestination) dari Jean Calvin. Teologi keliru ini menafsirkan bahwa karena keselamatan sepenuhnya berada di tangan Allah tanpa memedulikan perbuatan manusia, maka secara logis Allah telah mengambil keputusan mutlak tentang keselamatan setiap individu tanpa mempertimbangkan kisah hidup atau pilihan bebas mereka. Akibatnya, pandangan ini menyimpulkan bahwa Allah sejak semula telah menetapkan sebagian orang untuk diselamatkan dan secara sengaja menetapkan sebagian lainnya untuk kebinasaan. Teologi ini merusak keadilan dan kasih Allah karena menjadikan-Nya pencipta neraka bagi orang-orang yang memang sejak awal dirancang untuk dihukum tanpa diberi kesempatan memilih.
Gereja Ortodoks secara tegas menolak pemahaman predestinasi yang kaku, nasib (fate), atau takdir deterministik semacam ini. Ketika Rasul Paulus menulis bahwa Allah "telah memilih kita di dalam Dia sebelum dunia dijadikan" (Efesus 1:4), ayat ini harus ditafsirkan melalui lensa "pra-pengetahuan" Allah (Proginosko), bukan sebagai pemaksaan nasib. Allah memang mengetahui segala sesuatu secara sempurna, dan tidak ada yang tersembunyi dari-Nya; Ia melihat masa depan sama seperti Ia melihat masa kini. Namun, pengetahuan Allah yang mendahului segala tindakan manusia (baik perbuatan baik maupun jahat) sama sekali tidak berarti bahwa manusia dipaksa atau ditakdirkan untuk melakukan hal tersebut. Pilihan antara kebaikan dan kejahatan tetap sepenuhnya bergantung pada kehendak bebas manusia itu sendiri.
Tanggapan teologis Ortodoks Timur terhadap perdebatan predestinasi ini diselesaikan melalui prinsip Sinergi (Synergia) dan hubungan antara Pra-pengetahuan serta Predestinasi Ilahi. Berdasarkan katekismus St. Philaret, predestinasi Allah harus dipahami dengan cara berikut:
Pemisahan yang dipertahankan Ortodoksi ini menjaga agar Allah tidak menjadi pencipta kejahatan atau aktor yang memaksakan kehendak-Nya kepada manusia. Allah tidak pernah menyelamatkan manusia secara paksa atau bertentangan dengan kehendak bebas manusia. Jika seseorang pada akhirnya berada di neraka, itu bukan karena Allah sejak sebelum dunia dijadikan telah secara sewenang-wenang menetapkannya untuk binasa, melainkan karena iblis, roh-roh jahat, dan manusia itu sendiri yang secara sadar menentang kehendak Allah serta memilih jalan kejahatan. Dengan menolak kehendak Allah, manusia secara aktif menciptakan neraka bagi dirinya sendiri.
Oleh karena itu, ayat-ayat tentang pemilihan "sebelum dunia dijadikan" dalam pemahaman Ortodoks adalah penegasan akan rencana kekal Allah (Ekonomi Ilahi) untuk menyelamatkan dunia melalui Kristus. Di dalam Kristus, Allah telah menyiapkan jalur keselamatan yang absolut sejak kekekalan, dan Ia telah mempredestinasikan keselamatan bagi semua orang yang Ia ketahui sejak kekekalan akan dengan rela hati menyatukan kehendak bebas mereka dengan rahmat-Nya.
Gereja Kristen Ortodoks secara tegas menolak konsep predestinasi absolut (determinisme), nasib, atau takdir yang menetapkan sebagian orang untuk selamat dan sebagian lain untuk binasa tanpa memedulikan kehendak bebas mereka. Berikut adalah ayat-ayat firman Tuhan dan penjelasan teologisnya yang digunakan oleh Gereja Ortodoks untuk menolak konsep predestinasi yang keliru tersebut:
1. Ulangan 30:19 (Bukti Kehendak Bebas Manusia) "...Aku telah memperhadapkan kepadamu kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk: pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu." Penjelasan Teologis: Ayat ini adalah bukti kuat bahwa Allah memberikan panggilan kepada setiap manusia yang lahir ke dunia untuk menentukan pilihannya secara sadar. Jika keselamatan atau kebinasaan seseorang sudah ditentukan secara sepihak oleh Allah (predestinasi tak bersyarat), maka perintah Tuhan untuk "memilih" menjadi tidak masuk akal. Manusia tidak ditakdirkan kepada salah satu jalan, melainkan dipersilakan memilih, dan sayangnya banyak yang mengulangi kesalahan Adam dengan memilih untuk mendengarkan musuh (iblis) alih-alih suara Allah.
2. 2 Petrus 3:9 (Allah Tidak Menciptakan Manusia untuk Dibinasakan) "Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya... tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat." Penjelasan Teologis: Teologi predestinasi ganda (seperti Calvinisme) kerap mengajarkan bahwa Allah sejak awal menciptakan sebagian manusia memang untuk dihukum demi menunjukkan keadilan-Nya. Alkitab secara tegas membantah hal tersebut karena Allah panjang sabar dan tidak menghendaki seorang pun binasa. Orang-orang yang berakhir di neraka ("kegelapan luar") berada di sana karena penolakan mereka sendiri terhadap Kerajaan Allah, sebab Allah tidak akan pernah memaksa kehendak bebas manusia untuk menerima kasih-Nya.
3. 1 Timotius 2:4 (Anugerah Keselamatan Disediakan bagi Semua Orang) "...yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan..." Penjelasan Teologis: Allah menginginkan keselamatan semua orang dan senantiasa menanti pertobatan mereka. Katekismus Santo Philaret menjelaskan bahwa Allah telah menyiapkan dan secara nyata mengaruniakan "anugerah persiapan" (preparatory grace) serta sarana yang sangat cukup bagi semua manusia untuk mencapai keselamatan. Keselamatan Kristus tidak dibatasi hanya untuk kelompok "orang-orang pilihan" tertentu, melainkan ditawarkan secara universal.
4. Roma 8:29 (Predestinasi Didasarkan pada Pra-Pengetahuan, Bukan Paksaan) "Sebab mereka yang dipilih-Nya dari semula (foreknow / pra-pengetahuan), mereka juga ditentukan-Nya dari semula (predestinate)..." Penjelasan Teologis: Ayat ini adalah kunci bagaimana Ortodoks memahami kata "ditentukan dari semula" (predestinasi). Teologi Ortodoks (seperti rumusan para Patriark Timur) menekankan bahwa predestinasi Allah selalu didasarkan pada Pra-pengetahuan (Foreknowledge/Prognosis)-Nya. Allah Maha Tahu dan melihat masa depan persis seperti masa kini. Ia telah melihat dari kekekalan siapa yang akan menggunakan kehendak bebasnya dengan baik dan siapa yang menggunakan kehendak bebasnya dengan buruk. Berdasarkan pra-pengetahuan atas respons iman kehendak bebas itulah Allah mempredestinasikan mereka yang taat kepada kemuliaan, dan menghukum mereka yang menolak.
Nasib akhir (eskatologis) manusia tidak didikte secara fatalistik oleh Allah. Realitas keselamatan seseorang dibentuk oleh perpaduan (sinergi) antara kehendak Allah, yang hanya bertujuan pada kebaikan, dengan kehendak bebas manusia yang harus terus memilih untuk merespons kebaikan tersebut. Pengetahuan Allah akan apa yang bakal terjadi tidaklah sama dengan Allah memaksa hal itu terjadi.
Dalam teologi Kristen Ortodoks, pandangan mengenai "dosa asal" sangat berbeda dari tradisi Kristen Barat (Katolik Roma dan Protestan). Gereja Ortodoks lebih tepat menggunakan istilah "Kutukan Leluhur" (Ancestral Curse) dibandingkan "Dosa Asal" (Original Sin), dan secara dogmatis menolak gagasan mengenai warisan rasa bersalah.
Teologi yang memandang "Dosa Asal" sebagai rasa bersalah yang diwariskan secara biologis dan merusak kehendak bebas manusia secara total adalah produk dari pemikiran Gereja Barat, yang dirumuskan ke dalam bentuknya yang ekstrem oleh Agustinus dari Hippo (Augustine of Hippo).
Para teolog Timur yang sangat dipengaruhi oleh tradisi asketis dan biara tidak pernah merasa pandangan Agustinus tentang anugerah dan "dosa asal" ini dapat diterima. Jika Yesus Kristus memiliki kodrat manusia yang utuh, maka kodrat manusia tersebut pada dasarnya adalah baik. Karena itu, teologi Ortodoks memiliki pandangan yang jauh lebih optimis terhadap kapasitas manusia untuk bekerja sama dengan kasih karunia Allah (synergia) serta menolak keras pesimisme ekstrem yang dilahirkan oleh teologi Agustinus di Barat.
Status Kristus & Keselamatan nya, adalah Thologi sederhana yang sudah melewaati banyak ujian dari serangan kuasa iblis tapi selalu gagal tapi harus di pahami thelogi rasul adalah theologi nelayan, yang berpusat pada KRISTUS dan tidak bertolak belakang dari Thologi bapa bapa gereja, justru adalah respon tantangan zaman dari cara berfikir manusia yang bebas freewill terhadap Tuhan kita Yesus Kristus.
Dalam tradisi Kristen Ortodoks, "Teologi Nelayan" dan "Teologi Bapa-Bapa Gereja" bukanlah dua aliran pemikiran yang terpisah, melainkan sebuah kesinambungan yang utuh dari satu kebenaran ilahi yang sama. Hubungan antara keduanya mendemonstrasikan bagaimana wahyu Allah yang diberikan kepada orang-orang sederhana dijaga, dirumuskan, dan dipertahankan oleh para pemikir besar Gereja sepanjang sejarah.
Berikut adalah penjelasan mendalam mengenai makna kedua teologi tersebut dan bagaimana keduanya saling berhubungan erat:
Teologi Nelayan: Hikmat Roh Kudus yang Melampaui Dunia "Teologi Nelayan" merujuk pada ajaran, kesaksian, dan pewahyuan yang dibawa oleh para Rasul Kristus yang pertama. Secara historis dan sosiologis, para rasul ini adalah para nelayan yang miskin, tidak terkemuka, tidak berpendidikan, serta sering kali tidak dikenal dan diremehkan oleh manusia. Namun, Allah justru meninggikan mereka, baik dalam perkataan maupun perbuatan, dan menjadikan mereka sebagai guru serta rasul bagi seluruh dunia.
Bagaimana orang-orang yang tidak berpendidikan ini bisa memiliki teologi yang mengubah dunia? Jawabannya ada pada peristiwa Pentakosta. Sebuah himne Ortodoks pada hari raya Pentakosta dengan indah melukiskan karya Roh Kudus ini: "Para nelayan Ia ubah menjadi teolog". Artinya, teologi mereka bukanlah hasil dari perdebatan skolastik atau pendidikan filsafat akademis di ruang kelas, melainkan bersumber langsung dari perjumpaan nyata dengan Kristus dan pencerahan dari Roh Kudus. Suara dan perkataan mereka yang sederhana namun dipenuhi kuasa ilahi itu pada akhirnya menyebar luas hingga ke ujung-ujung bumi.
Teologi Bapa-Bapa Gereja: Penjaga Keaslian Ajaran Para Nelayan Teologi Bapa-Bapa Gereja (seperti St. Athanasius, St. Gregorius Palamas, St. Symeon dari Tesalonika, dan lainnya) adalah rumusan dogmatis, apologetis, dan liturgis yang dibangun murni untuk melindungi dan menjelaskan apa yang telah diajarkan oleh para nelayan tersebut.
Para Bapa Gereja menolak untuk membangun sistem teologi mereka murni di atas filsafat duniawi (seperti Plato atau Aristoteles) jika hal itu bertentangan dengan iman Kristen. Sebagai contoh, St. Symeon dari Tesalonika menulis karya teologisnya murni dengan bersandar pada Alkitab, keputusan Konsili, dan tradisi Ortodoks, tanpa pernah mencampurnya dengan hikmat dunia ini. Para Bapa Gereja sangat menyadari bahwa hikmat dunia yang spekulatif justru dapat dengan mudah memalsukan atau merusak "keaslian ajaran para nelayan". Oleh karena itu, teologi Bapa-Bapa Gereja selalu ditulis dengan iman, kejelasan, dan keringkasan yang mencerminkan semangat para Rasul, bukan sebagai abstraksi skolastik yang terisolasi dari kehidupan nyata Gereja.
Hubungan terdalam yang mengikat "Teologi Nelayan" dan "Teologi Bapa-Bapa Gereja" adalah pemahaman mereka tentang apa itu "teologi". Dalam tradisi Ortodoks, teologi bukanlah latihan intelektual untuk memecahkan teka-teki logika. Para Bapa Gereja terbesar selalu merupakan penyair yang visioner dan teologi mereka senantiasa bersifat kontemplatif.
Mengutip Evagrius Ponticus, tradisi ini menegaskan bahwa "seorang teolog adalah seseorang yang tahu bagaimana cara berdoa". Lebih lanjut, St. Gregorius dari Nyssa menjelaskan bahwa seorang teolog adalah seseorang yang mampu merumuskan pengalaman liturgis akan Allah dan persekutuan yang hidup ke dalam istilah-istilah teologis.
Di sinilah benang merahnya terlihat sangat jelas:
Hubungan antara keduanya adalah hubungan antara "Benih Pewahyuan" dan "Pohon Pertahanan Iman". Teologi nelayan adalah wahyu dasar yang sederhana, empiris, dan penuh kuasa Roh Kudus yang diberikan kepada orang-orang biasa. Sementara itu, teologi Bapa-bapa Gereja adalah penjabaran, pertahanan (apologetika), dan sistematisasi dari wahyu yang sama untuk melawan bidat-bidat di setiap zaman. Keduanya tidak terputus dan tidak bertentangan, karena keduanya bermuara pada satu sumber yang sama: perjumpaan nyata (pengalaman) dengan Allah melalui doa dan karya Roh Kudus di dalam Gereja
Praktik yang hanya mengandalkan "pengakuan iman sesaat" dan mempercayai bahwa status keselamatan terkunci secara permanen, dipandang oleh ajaran para Bapa Gereja sebagai sebuah kebohongan dan bahaya besar yang sangat merusak kehidupan spiritual.
Bantahan Ortodoks terhadap konsep ini berakar kuat pada keseluruhan kerangka Soteriologinya, yang memandang keselamatan bukan sebagai sebuah status hukum statis, melainkan sebuah proses yang dinamis. Berikut adalah penjelasan mendalam mengenai mengapa konsep tersebut ditolak, beserta dasar teologis dan referensi firman Tuhannya
Dalam beberapa pemahaman modern (khususnya tradisi Evangelis/revivalis), keselamatan sering direduksi menjadi keputusan sesaat untuk menerima Kristus, di mana setelah itu seseorang langsung mendapat jaminan tak tergoyahkan. Teologi Ortodoks menganggap pandangan ini sebagai penyederhanaan yang sangat naif. Keselamatan atau penebusan adalah sebuah proses penyembuhan ontologis untuk mencapai Theosis (deifikasi). Perjuangan manusia baru (di dalam Kristus) untuk melawan manusia lama yang berdosa adalah sebuah proses yang panjang dan menyakitkan. Baptisan memberikan pengampunan dosa, namun baptisan tidak menghapus "kemampuan" kita untuk kembali berbuat dosa. Realitasnya, kita terus-menerus jatuh bangun dan dapat menyimpang dari kehidupan baru yang telah kita terima. Oleh karena itu, keselamatan menuntut upaya penyucian setiap hari, bukan hanya keyakinan satu kali di masa lalu.
Keselamatan Kristen secara mutlak menuntut Synergeia (kerja sama atau sinergi) antara rahmat (kasih karunia) Allah dan kehendak bebas manusia. Allah menawarkan keselamatan kepada semua orang sebagai anugerah murni, namun Ia tidak pernah memaksa atau memanipulasi siapa pun untuk menerimanya. Hakikat dari kehendak bebas ini berarti manusia selalu memiliki kebebasan untuk menerima anugerah tersebut, atau menolaknya kembali di kemudian hari. Gereja mengajarkan bahwa seseorang dapat selamat melalui iman yang membara, namun ia juga tetap berpotensi untuk menolak anugerah tersebut di tengah jalan dan dengan demikian mendatangkan penghukuman atas dirinya sendiri akibat kebebasannya itu. Karena anugerah Allah senantiasa tunduk pada latihan kehendak bebas kita, rahmat keselamatan tidak pernah membelenggu kehendak manusia menjadi otomatis taat.
Konsep OSAS bertentangan dengan realitas sakramental. Santo Nikolas Cabasilas menegaskan bahwa seseorang memang disatukan menjadi anggota Tubuh Kristus (Gereja) di dalam baptisan. Namun, anggota tubuh tersebut bisa saja "terpotong" dan terpisah kembali dari Kristus akibat dosa. Meskipun tidak semua kelemahan kecil memutuskan relasi kita, "dosa maut" (dosa mematikan yang tidak disesali) dapat secara nyata mengebiri kehidupan rohani seseorang dan mencabutnya dari persatuan dengan Sang Kepala. Jika seseorang yang pada awalnya telah disatukan dengan Kristus pada akhirnya tidak memelihara kesatuan tersebut, ia tidak lagi memiliki hidup di dalam dirinya, dihitung sebagai musuh Allah, dan secara pasti akan disingkirkan dari kerajaan-Nya.
Katekismus St. Philaret dengan gamblang menanyakan apa status seseorang yang telah dibaptis (diselamatkan) namun kembali hidup di dalam dosa? Jawabannya adalah bahwa mereka justru "jauh lebih bersalah" dibandingkan orang yang belum pernah dibaptis sama sekali, karena mereka telah meremehkan dan menyia-nyiakan pertolongan khusus dari Allah. Hal ini didasarkan pada penegasan yang jelas dari rasul Petrus untuk menolak jaminan OSAS:
Untuk memelihara keselamatan, seseorang harus senantiasa memelihara iman yang diwujudkan melalui perbuatan kasih dan ketaatan kepada perintah Kristus. Keselamatan adalah menjaga relasi cinta dengan Allah. Santo Nikolas Cabasilas mengingatkan bahwa apabila kasih memudar dan seseorang mengabaikan hukum Allah, imannya dapat hancur berantakan. Alkitab secara terang-terangan berbicara mengenai orang yang awalnya percaya (memiliki iman) namun iman tersebut pada akhirnya hancur:
Bantahan paling praktis dari Gereja Ortodoks terhadap OSAS adalah keberadaan Sakramen Pengakuan Dosa (Penance). Jika dosa di masa depan tidak bisa membatalkan keselamatan seseorang, maka seruan Yesus dan para rasul untuk terus bertobat kehilangan makna urgensinya. Santo Symeon Teolog Baru mengajarkan bahwa sama seperti Adam yang pada awalnya berada di dalam kemuliaan (keselamatan/Firdaus) namun segera diusir ketika ia melanggar perintah, demikian pula manusia yang telah menerima keselamatan namun hidup di dalam kejahatan tanpa pertobatan (layaknya Adam yang jatuh) akan ditelanjangi dari kemuliaan ilahi dan dicampakkan dari Kerajaan Surga. Keselamatan hanya dipertahankan oleh orang-orang yang senantiasa bangun, mencuci kembali "pakaian" mereka yang kotor oleh dosa pasca-baptisan melalui air mata pertobatan yang sungguh-sungguh
Dalam dogma Ortodoks, keselamatan (Penebusan) yang Kristus kerjakan di kayu salib adalah sempurna dan tidak dapat dibatalkan oleh apa pun. Namun, partisipasi individu di dalam karya tersebut bergantung pada sinergi yang terus-menerus dijaga seumur hidup. Jaminan keselamatan kita bersifat relasional, bertumpu pada keyakinan teguh akan kasih karunia Allah, namun sama sekali bukan garansi hukum sepihak yang memberikan manusia kebebasan untuk hidup ceroboh dan mengabaikan kekudusan. Kita diselamatkan, kita sedang diselamatkan, dan kita akan diselamatkan jika kita bertahan sampai pada kesudahannya.