Untuk menjawab pertanyaan ini dengan tepat, kita perlu membedakan antara Alkitab (sebagai teks tertulis) dan Sang Firman atau Logos (sebagai Pribadi Ilahi).
1. Apakah Alkitab Bukan dari Allah?
Dalam iman Orthodox, Alkitab benar-benar berasal dari Allah, namun tidak dipahami dengan cara pendiktean mekanis dari langit. Gereja menyebut seluruh kitab di dalam Kitab Suci sebagai tulisan yang "diilhamkan secara ilahi", yang berarti bahwa meskipun para penulisnya adalah manusia, mereka menulis di bawah bimbingan dan ilham Roh Kudus.
Namun, Kekristenan Timur sangat menolak teori "infallibilitas verbal" (pendiktean kata per kata yang kaku) sebagaimana yang diyakini dalam pandangan Islam terhadap Al-Qur'an. Teori seperti itu justru mereduksi kedudukan wahyu itu sendiri, karena menjadikan seolah-olah "kitab/teks" adalah bentuk akhir dari wahyu. Dalam teologi Kristen Orthodox, Alkitab adalah saksi yang otoritatif dan tak terbantahkan terhadap Wahyu Ilahi, namun Alkitab bukanlah keseluruhan wahyu itu sendiri. Kitab Suci lahir dari dalam Gereja, merupakan bagian tak terpisahkan dari Tradisi Suci, dan hanya di dalam kerangka Tradisi inilah Alkitab dapat ditafsirkan dengan benar.
- 2 Timotius 3:16 (TB): "Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran."
- 2 Petrus 1:20-21 (TB): "Yang terutama harus kamu ketahui, ialah bahwa nubuat-nubuat dalam Kitab Suci tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri, sebab tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah."
- 2 Tesalonika 2:15 (TB): (Mendukung peran Tradisi Suci yang melahirkan Alkitab) "Sebab itu, hai saudara-saudara, berdirilah teguh dan berpeganglah pada ajaran-ajaran yang kamu terima dari kami, baik secara lisan, maupun secara tertulis."
2. Apa Makna Firman (Logos) dalam Orthodoxi?
Kesalahpahaman sering terjadi karena bahasa Indonesia menggunakan kata "Firman" untuk merujuk pada Alkitab ("Firman Tuhan") maupun kepada Yesus Kristus ("Sang Firman"). Dalam teologi Orthodox (yang berakar pada bahasa Yunani Perjanjian Baru), makna Firman (yakni Logos) memiliki kedalaman ontologis yang sangat luar biasa:
- Firman Adalah Sebuah Pribadi (Yesus Kristus): Kebenaran tertinggi dalam Orthodoxi bukanlah suatu rumusan dogmatis, hukum tertulis, atau konsep abstrak, melainkan sebuah Pribadi yang hidup. Kristus tidak datang semata-mata sebagai nabi atau "penyambung lidah" yang menyampaikan kumpulan wahyu dari Allah; Kristus adalah Wahyu itu sendiri. Umat Orthodox menafsirkan pembukaan Injil Yohanes secara literal: Sang Logos (Firman) itu bersama-sama dengan Allah, adalah Allah, dan kemudian berinkarnasi (menjadi manusia) di dalam diri Yesus Kristus.
- Firman sebagai Akal Budi dan Struktur Kosmos: Pada abad pertama, istilah Logos dalam ranah filsafat Yunani maupun keyahudian Helenistik merujuk pada prinsip akal budi, struktur logis, dan kekuatan yang mengikat serta menata alam semesta secara rasional. Rasul Yohanes dan para Bapa Gereja mengambil konsep ini dan mentransformasikannya dengan pewahyuan bahwa Logos Ilahi yang menata kosmos tersebut benar-benar telah mengambil daging manusia. Alam semesta ini bekerja dengan hukum-hukum yang logis (seperti fisika dan matematika) justru karena ia diciptakan dan ditopang oleh Sang Logos ini.
- Firman sebagai Agen Penciptaan: Teologi dogmatis mengajarkan bahwa Sang Firman adalah Hikmat dan Sabda kekal yang melaluinya Allah Bapa menciptakan segala sesuatu. Bapa selalu bertindak bersama Firman-Nya; tidak ada ciptaan yang bisa mewujud tanpa keterlibatan Sang Logos.
- Firman sebagai Mediator Ilahi: Logos bertindak sebagai perantara mutlak antara Allah Bapa yang tak terbatas dan alam semesta ciptaan. Ketika teologi Orthodox berbicara tentang Logos, mereka merujuk pada aspek Allah yang secara langsung hadir di dalam ruang dan waktu untuk berkomunikasi dengan ciptaan-Nya. Sang Firman inilah yang menjembatani keilahian yang tak terhampiri agar dapat dijangkau dan dialami oleh manusia.
Kebenaran tertinggi adalah Pribadi Yesus Kristus sendiri, Sang Logos yang telah menjadi manusia (berinkarnasi).
- Yohanes 1:1 (TB): "Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah."
- Yohanes 1:14 (TB): "Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran."
- Wahyu 19:13 (TB): "Dan Ia memakai jubah yang telah dicelup dalam darah dan nama-Nya ialah: 'Firman Allah.'"
Singkatnya, ketika Gereja Orthodox membaca Alkitab, mereka tidak menyembah teks tersebut sebagai Allah. Mereka membaca Alkitab karena tulisan-tulisan yang diilhamkan Roh Kudus tersebut adalah saksi yang paling sempurna untuk menuntun manusia pada perjumpaan dengan Sang Firman yang sesungguhnyayaitu Yesus Kristus.
Hubungan Kristus Dengan TAURAT
Hubungan antara Yesus Kristus dan Hukum Taurat (Hukum Musa) dalam teologi Orthodox memiliki dimensi yang sangat kaya, memadukan aspek ketaatan, penggenapan, penyempurnaan, hingga pembebasan manusia. Sikap Yesus terhadap Taurat sering kali dilihat sebagai sesuatu yang memiliki dua sisi: Ia menghormatinya secara mutlak, namun pada saat yang sama membawa otoritas yang melampauinya untuk menetapkan tatanan yang baru.
Berikut adalah penjabaran mendalam mengenai hubungan tersebut beserta referensi firman Tuhan:
1. Kristus Datang untuk Menggenapi, Bukan Menghancurkan Taurat Sikap fundamental Yesus terhadap Taurat tidak bertujuan untuk membuang wahyu masa lalu, melainkan membawanya kepada kepenuhan eskatologisnya. Injil tidak menghancurkan Taurat secara harfiah, melainkan "menghancurkannya" melalui satu-satunya cara yang sejati, yakni melalui penggenapan. Hukum Taurat diibaratkan seperti masa kanak-kanak atau seperti biji ek; biji itu tidak musnah, melainkan digenapi ketika ia tumbuh menjadi pohon ek yang utuh.
- Matius 5:17-18 "Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi".
2. Ketaatan Sempurna Kristus dalam Kemanusiaan-Nya (Kenosis) Sebagai manusia yang mengambil daging dari Perawan Maria, Yesus Kristus melakukan setiap perbuatan bajik dan mematuhi segala ketetapan Taurat secara sempurna dan tanpa kompromi, sebuah pencapaian yang tidak dapat dilakukan oleh manusia ciptaan lainnya. Ketaatan ini adalah bagian dari kerendahan hati (kenosis) Kristus yang turun dari surga dan menundukkan diri-Nya pada tatanan hukum duniawi untuk menebus mereka yang terikat oleh hukum tersebut.
- Galatia 4:4-5 "Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat. Ia diutus untuk menebus mereka, yang takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak".
3. Mengangkat Standar Moral dan Memperluas Makna Taurat (Khotbah di Bukit) Meskipun Kristus menaati Taurat, Ia tidak berhenti pada pemahaman lahiriah yang kaku seperti kelompok Farisi. Melalui Khotbah di Bukit, Kristus melengkapi, memperdalam, dan di beberapa bagian "mengoreksi" Hukum Musa dengan mengangkat standar moral jauh lebih tinggi daripada etika Perjanjian Lama.
- Hukum tentang Pembunuhan dan Kemarahan: Taurat melarang pembunuhan fisik, namun Yesus memperluas hukum tersebut ke akar masalah di dalam hati manusia. Referensi Firman (Matius 5:21-22): "Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh... Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum".
- Hukum tentang Kasih kepada Sesama: Di dalam Perjanjian Lama, istilah "sesama" (seperti dalam Imamat 19:18) umumnya dipahami sebagai sesama orang Israel atau anggota dari kelompok etnis yang sama. Namun, Yesus memperluas makna Taurat ini secara radikal untuk mencakup setiap umat manusia, tanpa memandang afiliasi etnis maupun agama.
4. Mengganti Hukum Kurban Lahiriah dengan Hukum Kasih Sistem Perjanjian Lama sangat berpusat pada kultus kurban hewan di Bait Allah yang sering dipahami dalam kerangka yuridis bahwa dosa adalah kejahatan yang menuntut pelunasan (penebusan) melalui darah hewan. Kristus membawa tatanan agama yang baru untuk menggantikan kultus kurban ini. Relasi dengan Allah tidak lagi didasarkan pada rasa takut atau kewajiban hukum yang ketat, melainkan berlandaskan pada kasih, kesetiaan, dan kebaikan praktis yang harus diwujudkan dalam kasih kepada sesama.
- Markus 12:32-34 Ahli Taurat yang merespons Yesus menyadari transisi ini dengan menyatakan bahwa mengasihi Allah dengan segenap hati dan mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah "jauh lebih utama dari pada semua korban bakaran dan korban sembelihan".
5. Pembebasan dari Perbudakan dan Kutuk Taurat Pada akhirnya, kedatangan Kristus bertindak sebagai penutup dari adat istiadat dan hukum lama, sekaligus inisiator bagi Hukum Perjanjian Baru. Karena hukum Taurat menuntut ketaatan sempurna yang gagal dipenuhi manusia, Taurat pada akhirnya hanya mendatangkan kutuk kematian. Kristus membebaskan umat manusia dari "ikatan dan perbudakan hukum yang lama" tersebut dengan menanggung kutuk itu di kayu salib. Melalui penebusan ini, aturan-aturan lama seperti pemeliharaan hari Sabat Yahudi secara ketat pada akhirnya dihapuskan dalam tradisi Kristen dan digantikan dengan ibadah di Hari Minggu sebagai peringatan Kebangkitan.
- Galatia 3:13 "Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: 'Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!'".
- Roma 8:1-2 "Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus. Roh, yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut".
Apakah Ayat Pengenapan dan Pembantahan Taurat Kontradiksi didalam Alkitab?
Ketegangan yang tampak antara perkataan Tuhan Yesus dalam Matius 5:17 dan ajaran Rasul Paulus dalam surat-suratnya (seperti Efesus 2:15 dan Roma 7) merupakan salah satu dinamika teologis paling penting dalam Kekristenan. Keduanya tidak saling bertentangan, melainkan berbicara tentang tahapan sejarah keselamatan yang berbeda: Kristus yang membawa hukum kepada tujuan akhirnya (penggenapan), dan hasil dari karya Kristus tersebut bagi umat manusia (pembebasan/pembatalan kutuk hukum).
Berikut adalah penjelasan mendalam mengenai kedua konsep tersebut:
Makna Penggenapan oleh Tuhan Yesus (Matius 5:17)
Dalam Khotbah di Bukit, Yesus memberikan pernyataan yang sangat tegas mengenai misi-Nya: "Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sampai semuanya digenapi".
- Bukan Menghancurkan, melainkan Membawa ke Puncak: Yesus Kristus tidak datang untuk menghapus atau membuang wahyu dan hukum yang telah diberikan Allah di masa Perjanjian Lama. Sebaliknya, Ia datang untuk menggenapinya dengan cara menjalani ketaatan yang sempurna terhadap kehendak Bapa.
- Memenuhi Segala Tuntutan Hukum: Kristus menggenapi hukum Taurat dengan cara mempraktikkan kehidupan yang murni dari segala dosa dan secara sempurna mematuhi setiap hukum yang ditetapkan bagi manusia. Ia sendirilah yang menanamkan dan mencontohkan filosofi surgawi ini di bumi.
- Mengungkapkan Makna Rohani: Penggenapan juga berarti Kristus menyingkapkan esensi moral dan spiritual yang terdalam dari Taurat, melampaui sekadar kepatuhan lahiriah atau aturan hurufiah (legalistik) semata.
Makna "Pembatalan" dalam Ajaran Paulus (Efesus 2:15)
Sementara Kristus berbicara tentang menggenapi esensi Taurat, Rasul Paulus sering kali berbicara dalam konteks bagaimana bangsa-bangsa non-Yahudi (Genitiles) dapat masuk ke dalam persekutuan dengan Allah tanpa harus menanggung kuk hukum Taurat Yahudi (seperti sunat dan aturan kemurnian ritual).
- Menghancurkan Tembok Pemisah: Dalam pandangan Paulus, karya salib Kristus membatalkan atau "menghancurkan tembok pemisah" permusuhan antara orang Yahudi dan non-Yahudi, serta mendamaikan mereka dengan Allah. Hukum Taurat dengan segala perintah dan larangan ritualnya bertindak sebagai tembok pemisah tersebut.
- Kelemahan Taurat dan Perbudakan Dosa: Paulus menegaskan bahwa hukum Taurat itu sendiri adalah suci, adil, dan baik. Namun, Taurat tidak memiliki kekuatan untuk menyelamatkan manusia karena hukum tersebut dilemahkan oleh "daging" (hawa nafsu dan keberdosaan manusia). Manusia berdosa tidak dapat mengatasi hawa nafsunya hanya dengan mengandalkan hukum. Akibatnya, hukum Taurat justru menjadikan manusia tawanan dosa dan pada akhirnya membawa kutuk serta hukuman mati.
- Pembebasan Melalui Kematian Kristus: Oleh karena manusia tidak bisa membenarkan dirinya melalui ketaatan pada Taurat (kebenaran manusiawi), Kristus mati untuk membebaskan kita. Paulus mengajarkan bahwa umat beriman kini "telah mati bagi hukum Taurat melalui tubuh Kristus" sehingga manusia dibebaskan dari kode tertulis yang lama, dan kini melayani dalam hidup baru di dalam Roh.
3. Harmonisasi: Penggenapan yang Menghasilkan Pembebasan Teologi Kristen melihat bahwa penggenapan oleh Yesus dan pembebasan (pembatalan sistem legal) oleh Paulus adalah dua sisi dari koin yang sama.
Hukum Perjanjian Lama dirancang oleh Allah dengan fungsi yang terbatas, yakni bertindak sebagai "penjaga" atau "penuntun" sementara untuk mempersiapkan manusia agar siap menerima kedatangan Sang Tabib Ilahi. Hukum tersebut mendiagnosis penyakit dosa manusia tetapi tidak memiliki kuasa untuk menyembuhkannya.
Ketika Sang Tabib yakni Kristus telah datang, Ia secara utuh menggenapi (Matius 5:17) seluruh prasyarat, ketaatan, dan utang kehormatan yang dituntut oleh hukum Taurat kepada Allah, melalui kehidupan-Nya yang tak berdosa dan kematian-Nya di kayu salib. Karena utang tersebut telah dibayar lunas dan segala tuntutan telah digenapi, maka secara hukum sistem pengadilan Taurat yang lama beserta kutuknya dibatalkan atau dihapuskan kuasa menghukumnya atas umat beriman (Efesus 2:15). Umat manusia kini tidak lagi berelasi dengan Allah dalam status perbudakan di bawah hukum yang lama, melainkan hidup dalam kasih, anugerah, dan status sebagai anak-anak Allah.
Kesimpulan
Kesimpulan bahwa Gereja Orthodox tidak menyembah teks Alkitab, melainkan menggunakannya sebagai sarana perjumpaan dengan Sang Firman (Yesus Kristus), merupakan salah satu fondasi paling mendalam dalam teologi dan spiritualitas Kekristenan Timur. Pemahaman ini membedakan Kekristenan secara radikal dari agama-agama lain yang memusatkan iman mereka pada sebuah "buku suci" yang didiktekan dari surga.
Berikut adalah penjabaran teologis yang mendalam mengenai kesimpulan tersebut:
- Wahyu Kekristenan adalah Sebuah Pribadi, Bukan Teks Gereja Orthodox menolak keras teori "infalibilitas verbal" atau pendiktean mekanis kata per kata, karena teori semacam itu justru mereduksi teks menjadi wahyu itu sendiri, yang pada dasarnya merupakan konsep pewahyuan Islam (Al-Qur'an), bukan Kristen. Dalam Kekristenan, teks tertulis atau kata-kata di dalam Alkitab bukanlah pewahyuan tertinggi, melainkan sekadar saksi yang menunjuk pada Wahyu yang sejati. Wahyu Kristen yang sejati bersifat unik karena Wahyu tersebut adalah sebuah Pribadi, yaitu Yesus Kristus, Sang Putra Allah. Kekristenan mula-mula dengan jelas memahami bahwa Yesus bukanlah tulisan atau Kitab Suci yang merupakan representasi dan pewahyuan Allah yang paling benar dan paripurna.
- Sifat Sakramental dari Pembacaan Kitab Suci Karena Alkitab berfungsi menuntun manusia kepada Kristus, pembacaan dan proklamasi Firman (Injil) dipahami sebagai tindakan yang sangat sakramental di dalam Gereja. Tindakan membaca Kitab Suci adalah sebuah peristiwa yang mentransformasi, di mana kata-kata manusiawi diubah menjadi manifestasi Kerajaan Allah, dan manusia yang mendengarnya diubah menjadi bait Roh Kudus serta wadah bagi Sang Firman itu sendiri. Di mata teologi mistik, merupakan suatu keajaiban yang luar biasa bagaimana Allah, hanya melalui perantaraan kata-kata dan huruf yaitu melalui pecahan "tinta yang mati" sanggup menyingkapkan misteri-misteri yang sedemikian besar kepada umat manusia. Alkitab adalah "sekolah kehidupan beragama"; ketika seseorang membacanya, Kristus hadir secara tak kasat mata di dalam kehidupan orang tersebut, dan suara-Nya yang hidup akan bergema serta menemukan ruang tanggapan di dalam hati pembacanya.
- Kitab Suci Tidak Berdiri Sendiri, Melainkan Bernapas di dalam Tradisi Alkitab tidak jatuh begitu saja dari langit, melainkan ditulis oleh manusia yang bekerja di bawah bimbingan dan ilham langsung dari Roh Kudus. Oleh karena asal-usul ilahi inilah, Gereja menyebut Kitab Suci sebagai sumber iman yang otoritatif dan tak terbantahkan. Akan tetapi, Kitab Suci tetaplah merupakan satu bagian organik dari Tradisi Suci yang lebih besar, dan teks tersebut hanya dapat ditafsirkan secara benar dan akurat dari dalam kerangka Tradisi Gereja itu sendiri. Tradisi bukanlah penemuan manusia, melainkan merupakan "kehidupan Roh Kudus di dalam Gereja," yang memastikan bahwa perjumpaan manusia dengan Kristus melalui teks Alkitab tetap berada dalam jalur kebenaran.
- Perjumpaan dengan Sang Logos Menuntut Pemurnian Batin Oleh karena objek dari kontemplasi Alkitab adalah sebuah kehadiran yang bersifat personal (Kristus), pengenalan yang sejati (gnosis) mengharuskan adanya perjumpaan dan hubungan timbal balik antara roh manusia dengan Allah yang mewahyukan Diri-Nya. Ini berarti Alkitab tidak bisa dibaca sekadar sebagai buku akademik atau sejarah. Santo Athanasius Agung menegaskan bahwa untuk mempelajari dan memiliki pengetahuan yang benar tentang Kitab Suci, seseorang dituntut untuk memiliki kehidupan yang baik, jiwa yang murni, serta kebajikan Kristiani. Tanpa adanya pikiran yang murni dan kehidupan yang meneladani kesucian para kudus, tidak ada seorang pun yang sanggup memahami kedalaman perkataan rohani yang ada di dalam Alkitab. Pikiran manusia harus dibersihkan, layaknya mata yang harus dibersihkan agar dapat melihat cahaya matahari dengan terang.
Bagi Gereja Orthodox , Alkitab adalah "Ikon Verbal" dari Kristus. Sama seperti seorang umat tidak menyembah kayu dan cat dari sebuah ikon melainkan menyembah Pribadi yang digambarkan di atas kayu tersebut, demikian pula umat tidak menyembah teks Alkitab secara harfiah. Kata-kata di dalam Kitab Suci adalah instrumen ilahi yang diilhamkan Roh Kudus untuk merobek tirai kefanaan, agar jiwa manusia yang telah disucikan dapat bertatap muka secara eksistensial, mistis, dan sakramental dengan Sang Firman (Logos) yang kekal, Yesus Kristus, untuk bersatu dengan-Nya dalam kasih.