Apr 28, 2026
Author
Andronikus

Dalam tradisi Kekristenan Ortodox Timur dan teologi Philokalia, konsep Nous adalah kunci utama untuk memahami struktur jiwa manusia, kejatuhan manusia, dan proses penyembuhannya.
Apa itu Nous?
Sejauh yang saya tahu, dalam literatur Kristen awal, nous merujuk pada pikiran/pengertian/intelek dan bukan hati atau roh, dan bahkan dibedakan dengan keduanya. Sebagai contoh, dalam 1 Korintus 14:14, Paulus berkata, "Sebab, jika aku berdoa dengan bahasa roh, maka rohkulah yang berdoa, tetapi akal budiku [νοῦς / nous] tidak turut berdoa." Di sini Paulus tidak hanya mengaitkan nous dengan pikiran, tetapi membedakannya dengan roh.
Di tempat lain Paulus membedakan nous dengan manusia batiniah yang sedang diperbarui oleh Allah. Misalnya, dalam Roma 7:22-23 ia menulis, "Sebab di dalam batinku aku bersukacita melihat hukum Allah, tetapi di dalam anggota-anggota tubuhku aku melihat rupa-rupa hukum lain yang berjuang melawan hukum akal budiku [nous] dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuhku."
Demikian pula, dalam kumpulan tulisan spiritual yang dikenal sebagai Homili Makarios, yang dikaitkan dengan seorang biarawan Mesir bernama Makarios yang hidup pada abad ke-4 Masehi, kita membaca sebagai berikut mengenai 2 Korintus 3:
"Kasih karunia ilahi menulis pada 'loh-loh hati' hukum Roh dan misteri surgawi. Karena hati mengarahkan seluruh organ tubuh, dan ketika kasih karunia menguasai hati, ia menguasai seluruh anggota [tubuh] dan pikiran. Karena di sana, di dalam hati, pikiran [nous] tinggal serta semua pikiran jiwa dan semua harapannya. Begitulah kasih karunia menembus seluruh bagian tubuh."
Berikut adalah pembahasan mendalam mengenai Nous, mulai dari bahasa aslinya dalam Alkitab, ontologi, fungsi, hingga bagaimana ia bekerja:
Kata Nous berasal dari bahasa Yunani kuno (νοῦς). Dalam literatur klasik maupun Alkitab (khususnya surat-surat Rasul Paulus), kata ini sering kali diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris modern sebagai mind (pikiran), understanding (pengertian), atau intellect (intelek). Dalam bahasa Latin, kata ini diterjemahkan menjadi intellectus atau mens.
Sebagai contoh, dalam 1 Korintus 14:14, Rasul Paulus menulis: "Sebab, jika aku berdoa dengan bahasa roh, maka rohkulah yang berdoa, tetapi akal budiku (νοῦς / nous) tidak turut berdoa". Demikian pula dalam Roma 7:22-23, Paulus mengontraskan hukum Allah yang disukai batinnya dengan hukum dosa yang berperang melawan "hukum akal budiku (nous)".
Namun, penerjemahan nous sekadar sebagai "pikiran rasional" di era modern telah menimbulkan kebingungan yang besar. Oleh para Bapa Gereja, Nous dipahami secara jauh lebih mendalam daripada sekadar kemampuan otak untuk berpikir secara logis.
Secara ontologis (hakikat keberadaannya), Nous bukanlah organ fisik seperti otak, melainkan bagian yang paling murni dan paling dalam dari jiwa manusia.
Dalam pandangan Ortodoxs, Nous berfungsi sebagai "mata jiwa" atau "mata hati".
Fungsi utama Nous adalah untuk mempersepsikan realitas spiritual dan mengalami persekutuan secara langsung dengan Allah.
Sangat penting untuk membedakan antara Nous dengan Dianoia (Rasio/Akal Budi):
Cara kerja Nous sangat bergantung pada arah fokusnya. St. Dionysius orang Areopagus mengklasifikasikan pergerakan nous ke dalam tiga arah:
Dalam Kondisi Sehat (Sebelum Kejatuhan): Nous secara alami selalu haus dan memiliki kerinduan yang intens (eros) terhadap Allah. Romo Constantine Strategopoulos memberikan analogi yang indah tentang cara kerja Nous yang sehat: Nous bagaikan seseorang yang mencari bahan bakar (minyak) dan memintanya langsung kepada Allah. Allah memberikan "api kasih-Nya", dan bahan bakar itu dimasukkan ke dalam "mesin pemanas", yaitu hati. Hati yang hangat oleh kasih Allah kemudian memanaskan nous, dan nous kembali berputar menuju Allah. Inilah siklus pergerakan batin yang sehat. Dalam kondisi ini, nous berfungsi layaknya "panglima" atau "pilot" yang mengatur dan menjaga seluruh jiwa serta tubuh agar tetap tunduk pada kehendak Allah.
Dalam Kondisi Sakit (Akibat Dosa/Kejatuhan): Kejatuhan Adam menyebabkan apa yang disebut para Bapa Gereja sebagai "penggelapan nous". Nous kehilangan orientasinya terhadap Allah, berbalik menuju ketiadaan, dan energinya (perhatiannya) terpencar keluar dari hati melalui panca indera. Akibatnya, pikiran rasional (dianoia) melakukan pemberontakan dan mengambil alih kendali manusia, sementara jiwa diperbudak oleh hawa nafsu dan ilusi. Manusia modern menderita kecemasan dan stres karena nous-nya terus-menerus diserang dan terpecah-belah oleh pikiran-pikiran yang liar (dia-logismos).
Psikoterapi Ortodox berfokus penuh untuk menyembuhkan nous yang sakit ini. Proses penyembuhannya dilakukan dengan membalikkan proses kejatuhannya:
Dalam tradisi teologi Orthodox Timur dan Psikoterapi Orthodox , berbagai gangguan kejiwaan dan penderitaan mental manusia modern tidak dipandang sekadar sebagai kerusakan biologis otak, trauma masa lalu, atau sekadar ketidakseimbangan emosional. Akar dari segala masalah psikologis tersebut terhubung secara langsung dengan sebuah kondisi spiritual yang disebut sebagai "penggelapan Nous" (darkening of the nous).
Nous didefinisikan sebagai "mata hati" atau pusat kesadaran spiritual manusia yang berfungsi untuk mengalami persekutuan langsung dengan Allah. Kejatuhan manusia pertama (Adam) dipahami sebagai peristiwa di mana Nous kehilangan orientasi dan persekutuannya dengan Allah, yang mengakibatkan Nous tersebut menjadi buta atau "gelap".
Berikut adalah kaitan mendalam antara penggelapan Nous dan gangguan kejiwaan modern:
1. "Tirani Pikiran" dan Pemberontakan Rasio Dalam kondisi yang sehat, Nous berfungsi sebagai pusat kendali yang memimpin jiwa dan tubuh. Namun, ketika Nous menjadi gelap, terjadilah kebingungan fungsi di mana Nous tercampur aduk dengan fungsi otak dan emosi. Hal ini memicu "pemberontakan rasio" di mana pikiran logis/rasional (mind atau dianoia) mengambil alih kendali dan mendominasi seluruh kehidupan manusia. Sayangnya, pikiran rasional tidak dirancang untuk mandiri. Ketika pikiran beroperasi terlepas dari Nous (hati), ia memisahkan diri dan bertindak seolah memiliki kehidupannya sendiri, yang pada akhirnya membawa kehancuran dan kebingungan pada segala hal yang disentuhnya. Mayoritas manusia modern hidup di bawah tirani pikiran ini, di mana kehidupan mereka sepenuhnya dikuasai oleh ketakutan, hasrat, depresi, dan kecemasan, sementara pusat keberadaan mereka yang asli (Nous) diabaikan.
2. Fragmentasi Memori dan Pikiran yang Kacau (Dia-logismos) Penggelapan Nous menyebabkan manusia kehilangan ingatan akan Allah, dan sebagai gantinya, manusia berpaling kepada hal-hal yang "tidak ada" atau fana. St. Gregorius dari Sinai menjelaskan bahwa hilangnya ingatan akan Tuhan adalah penyakit jiwa yang secara langsung berdampak pada memori manusia. Memori manusia menjadi terpecah-belah, terfragmentasi, dan tersebar. Kondisi pikiran yang terpecah dan berserakan ini disebut sebagai dia-logismos (pemikiran atau spekulasi yang terfragmentasi). Dia-logismos inilah yang melahirkan kebingungan batin dan penderitaan psikologis yang mendalam, di mana manusia modern terus-menerus disiksa oleh pemikiran yang gelisah dan kecemasan akan masa depan yang tidak berujung.
3. Perbudakan oleh Hawa Nafsu (Passions / Logismoi) Ketika Nous kehilangan persekutuan dengan Allah sebagai sumber nilai dan kehidupan, jiwa merasakan kekosongan yang amat sangat. Kekosongan ini membuat manusia sangat rentan terhadap godaan iblis dan pikiran-pikiran yang mengganggu (logismoi). Karena Nous yang gelap tidak mampu lagi menyaring atau menangkis pikiran-pikiran tersebut, jiwa akhirnya diperbudak oleh gairah-gairah buruk (passions). Manusia mencari kompensasi atau kepuasan pada hal-hal materi, emosi, atau kecanduan untuk mengisi ruang di dalam hati yang seharusnya diisi oleh rahmat Roh Kudus.
4. Akar dari Kecemasan Eksistensial Modern Banyak masalah psikologis manusia modern—seperti ketakutan dan kecemasan yang berlebihan akan kematian, rasa bersalah, dan kekosongan makna hidup—sebenarnya berakar secara langsung pada kondisi spiritual yang sakit ini. Penderitaan mental dan stres yang dialami manusia adalah simtom (gejala) dari keterpisahan atau kerenggangan dari Tuhan. Ketika manusia mengejar kebahagiaan duniawi semata untuk memuaskan egonya, hal itu justru melipatgandakan kecemasannya karena bumi tidak bisa menampung kegelisahan jiwa yang telah kehilangan pusatnya.
Kesimpulan Dari perspektif Psikoterapi Orthodox, penderitaan yang sering didiagnosis oleh dunia medis sebagai "depresi manik" atau kecemasan parah pada intinya bersumber dari keterasingan manusia secara utuh (tubuh dan jiwa) dari Allah. Oleh karena itu, tujuan terapi yang sejati bukanlah sekadar memperoleh keseimbangan emosional sesaat, melainkan reintegrasi antara pikiran dan hati. Hal ini dicapai melalui pembersihan Nous dari hawa nafsu dan pikiran yang terfragmentasi, sehingga Nous dapat kembali diterangi oleh kasih karunia Tuhan dan memulihkan kedamaian jiwa yang otentik (hesychia).
Aspek Perbandingan | Kristen Modern (Karismatik, Injili, Konseling Psikologi) | Ortodoks Timur (Philokalia & Psikoterapi Orthodox) |
|---|---|---|
Akar Penyakit Jiwa | Luka Batin & Trauma: Fokus pada ingatan masa lalu, penolakan, dan emosi yang terluka dalam struktur jiwa (memori/kehendak). | Penggelapan Nous: Fokus pada "mata hati" yang gelap akibat dosa, dominasi pikiran rasional (logismoi), dan perbudakan hawa nafsu. |
Tujuan Akhir | Kesejahteraan Emosional: Mencapai kebahagiaan, kebebasan dari rasa bersalah, keseimbangan psikologis, dan fungsi normal. | Theosis (Deifikasi): Persatuan dengan Allah, penyucian nous, dan pencapaian kedamaian batin yang melampaui akal (Hesychia). |
Metodologi Penyembuhan | Regresi Imajinatif: Menggunakan "Penyembuhan Kenangan" (seperti SOZO), visualisasi Yesus dalam trauma masa lalu untuk mengubah memori. | Penjagaan Masa Kini: Menolak imajinasi/visualisasi; fokus pada (kewaspadaan), Doa Yesus, sakramen, puasa, dan bimbingan bapa rohani. |
Dalam tulisan sebelumnya, kita telah mengenal Nous sebagai "mata hati" atau pusat kemudi jiwa manusia. Ketika kita jatuh dalam dosa atau menyimpan trauma, Nous kita menjadi "sakit", gelap, dan energinya terpencar tak tentu arah. Manusia menjadi cemas, stres, dan kehilangan fokus pada Tuhan.
Lalu, di mana letak rumah sakitnya? Bagaimana cara mengoperasi Nous yang sudah telanjur gelap dan terluka ini?
Dalam tradisi spiritual Orhtodox, jawabannya ada pada Sakramen Pengakuan Dosa. Ini bukanlah sebuah pengadilan yang dingin di mana Tuhan memegang palu hakim untuk menghukum pelanggaran moral Anda. Sebaliknya, para Bapa Gereja menyebutnya sebagai "Psikoanalisa Ilahi"—sebuah terapi pemulihan total yang dirancang khusus untuk menyembuhkan jiwa dan mengembalikan Nous pada kondisi aslinya.
Mari kita lihat bagaimana terapi ajaib ini bekerja secara spesifik untuk memulihkan Nous kita:
Ketika seseorang mengalami trauma mendalam, energi Nous-nya pecah dan tertinggal di berbagai kenangan masa lalu. St. Porphyrios menyarankan sebuah terapi yang disebut "Pengakuan Dosa Umum" (General Confession).
Dalam metode ini, Anda menceritakan seluruh perjalanan hidup Anda—bukan hanya dosa, tapi juga kenangan pahit, manis, keberhasilan, dan kegagalan sejak Anda kecil. Dengan membuka seluruh "buku harian" jiwa Anda tanpa ada yang ditutupi, Anda sedang membantu Nous yang tadinya terpencar-pencar untuk ditarik kembali dan disatukan. Anda membuka seluruh ruang jiwa untuk diintervensi oleh Sang Tabib Agung.
Penyembuhan trauma dalam tradisi Orhtodox tidak terjadi hanya karena rasa lega setelah "curhat" (katarsis psikologis). Ada operasi tak kasatmata yang sedang berlangsung.
Saat Anda menceritakan luka batin tersebut, bapa rohani (imam) di hadapan Anda sedang berdoa dengan sangat sungguh-sungguh. Imam di sini berfungsi seperti "kabel konduktor" yang menyalurkan rahmat Allah langsung ke dalam jiwa Anda. St. Porphyrios menyebutnya sebagai "radiasi spiritual". Radiasi Ilahi inilah yang sesungguhnya bekerja menyinari dan menyembuhkan Nous yang selama ini tertutup oleh kabut rasa bersalah dan trauma.
"Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya." — Yakobus 5:16
Tahukah Anda bahwa tempat kediaman Nous yang paling murni ada di relung hati yang paling dalam (alam bawah sadar)? Banyak penderitaan mental sebenarnya berakar dari "luka warisan", bahkan sejak dari kandungan (misalnya depresi atau kecemasan orang tua).
Sering kali kita tersiksa tanpa tahu apa penyebab utamanya. Psikologi manusia mungkin sulit menjangkaunya, tetapi rahmat Allah yang turun saat pengakuan dosa yang tulus sanggup menembus hingga ke dasar hati tersebut. Terapi ini membersihkan "takhta" Nous dari noda-noda psikologis masa lalu yang diwariskan kepada kita.
Dalam Philokalia, menyembunyikan pikiran buruk, dendam, atau trauma di dalam hati sama saja dengan memberikan mainan kepada iblis. Hal-hal tersembunyi inilah yang terus menyerang dan memecah belah Nous kita.
St. Yohanes Cassian memberikan perumpamaan yang luar biasa: Pikiran beracun dan trauma itu ibarat seekor ular berbisa yang bersembunyi di lubang gelap di dalam hati. Selama ia sembunyi, ia kuat. Namun, ketika Anda menariknya keluar ke dalam terang (melalui pengakuan dosa), ular itu langsung kehilangan kekuatannya, hancur, dan lari ketakutan. Rasa malu saat kita berani mengakui kelemahan tersebut justru menghancurkan ego dan kesombongan yang selama ini menjadi sarang sang ular.
"Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan." — 1 Yohanes 1:9
Ketika ular sudah diusir dan kotoran sudah dibersihkan, Nous bisa kembali menduduki takhtanya di dalam hati. Anda membeberkan segala rahasia kepada bapa rohani seolah-olah Anda berbicara langsung kepada Tuhan. Hasilnya? Hati nurani menemukan kelegaan yang sejati.
Berbeda dengan terapi sekuler yang hanya mengandalkan rasio manusia, "Psikoanalisa Ilahi" ini memastikan penderitaan Anda digantikan dengan kedamaian batin yang kokoh (Hesychia). Nous Anda kembali jernih, dan Anda siap kembali memandang wajah Allah dengan sukacita Surga!
"Jadikanlah hatiku tahir, ya Allah, dan perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh!" — Mazmur 51:12
Siapa pun yang pernah terlibat dalam Orthodoxy di Amerika kemungkinan besar pernah melihat banyak wacana (sering kali bersifat polemis) tentang "nous." Faktanya, nous memainkan peran penting dalam polemik anti-Barat karena telah menjadi kiasan bahwa "Barat tidak memiliki konsep nous." Akibatnya, nous berfungsi sebagai semacam hal rahasia yang hanya bisa Anda akses dengan menjadi Orthodox, sementara ketidakmampuan untuk menjelaskan maknanya secara koheren hanya menambah mistik pseudo-mistisnya.
Tapi lebih buruk lagi, tampaknya ada tren yang mengkhawatirkan di mana polemik terkait nous menjadi semakin sejalan dengan ateisme. Baru-baru ini saya menulis surat kepada beberapa teman yang menguraikan kekhawatiran ini dan meminta umpan balik mengenai masalah teologis yang ditimbulkannya. Berikut adalah salinan surat saya.
Surat Tentang Kebingungan Awal Saya Mengenai Nous
Pertanyaan saya adalah apakah pemahaman yang salah tentang nous (bahasa Yunani νοῦς) yang dipromosikan oleh pemikir anti-Barat seperti Romo John Romanides, Metropolitan Hierotheos Vlachos, dan banyak lainnya, berkolusi dengan antropologi sekularis yang semakin membawa malapetaka di zaman kita yang diwarnai transgenderisme, transhumanisme, dll. Faktanya, apakah antropologi Orthodox yang baru tanpa disadari merupakan pelayan ateisme?
Saya menyadari perlu ada beberapa konteks untuk pertanyaan saya, jadi saya akan mulai dengan mendefinisikan beberapa istilah, dimulai dengan nous.
Berhenti Mengatakan Nous adalah Hati!
Dalam bagian di atas, nous tidak hanya dikaitkan dengan pikiran/intelek, tetapi juga dibedakan dengan hati, yang mana hati adalah pusat pekerjaan Allah di dalam diri kita menurut Makarios. Mengingat sentralitas hati dalam antropologi Makarios, tujuannya adalah agar pikiran/nous tinggal di dalam hati.
Teolog lain menyampaikan hal serupa: misalnya, pertapa abad kelima St. Diadochos dari Photiki menulis tentang nous yang turun ke dalam hati melalui doa; St. Symeon Teolog Baru juga berbicara tentang nous yang turun ke dalam hati, begitu pula St. Teofan sang Pertapa.
Bahasa seperti ini masuk akal karena nous tidak sama dengan hati. Kata Yunani untuk hati adalah kardia (καρδία) dan ini tidak dapat direduksi menjadi nous (νοῦς). Kardia muncul di bagian-bagian berikut:
Matius 6:21: "Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu [καρδία] berada."
Matius 22:37: "Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu [καρδία] dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu."
Yohanes 12:40: "Ia telah membutakan mata dan mendegilkan hati [καρδία] mereka, supaya mereka jangan melihat dengan mata, dan menanggap dengan hati, lalu berbalik, sehingga Aku menyembuhkan mereka."
Bagian-bagian ini memperjelas bahwa baik νοῦς (pikiran) maupun καρδία (hati) dapat dibedakan dengan cara yang sama seperti lengan dan kaki dibedakan, dan sementara keduanya bekerja bersama pada orang yang sehat secara spiritual seperti tindakan lengan dan kaki bekerja bersama, keduanya tidak hanya dapat dipertukarkan.
Sejauh yang saya tahu, pada pertengahan abad ke-20, ada langkah untuk melepaskan nous dari makna Yunaninya (pikiran atau pengertian) dan sebagai gantinya mengaitkannya dengan
hati
bagian dari hati
roh
jiwa
sesuatu yang mencakup pikiran dan bagian dari fakultas lainnya.
Dalam pengertian modern ini, tidak ada gambaran seragam yang muncul tentang apa sebenarnya nous itu, selain bahwa nous bukanlah satu-satunya hal seperti yang dipahami orang-orang Kristen berbahasa Yunani awal, yaitu intelek. Ini pada gilirannya mengarah pada beberapa gagasan aneh, seperti gagasan yang sering diulang bahwa pikiran harus turun ke dalam nous – kebalikan dari tradisi yang diwakili oleh Makarios, et al., di mana tujuannya adalah agar nous turun ke dalam hati.
Lebih buruk lagi, wacana modern yang saya pertanyakan mengarah pada pemisahan halus orang percaya dari Kristus karena cenderung mengabaikan referensi ke nous Allah, dan dengan demikian mengabaikan konsep Alkitab tentang berpartisipasi dalam pikiran (nous) Kristus.
Yang lebih mengkhawatirkan adalah bagaimana nous dianggap berhubungan dengan hati. Sementara literatur Orthodox modern menggunakan nous dalam kelima pengertian yang disebutkan di atas, konsensus yang luar biasa yang saya lihat adalah menjadikan nous pertama-tama sinonim dengan hati. Misalnya, Orthodox wiki menyatakan, "Nous adalah mata jiwa, yang beberapa Bapa juga menyebutnya hati." Dalam Patristic Theology, Romo John Romanides menulis,
"Gereja selalu mempertimbangkan...bahwa di wilayah hati fisik berfungsi sesuatu yang para Bapa sebut sebagai nous."
Demikian pula, dalam Psikoterapi Ortodoks, Metropolitan Hierotheos Vlachos mengamati:
"Esensi jiwa, yaitu hati, juga disebut nous. Dalam banyak bagian Kitab Suci dan dalam Bapa-Bapa ada hubungan ini antara nous dan hati, karena istilah-istilah ini digunakan secara bergantian.... Nous juga disebut hati dan kedua istilah nous dan hati dapat saling dipertukarkan."
Satu masalah yang jelas dengan membuat hati dan nous dapat diubah satu sama lain adalah bahwa hal itu menutupi wacana yang kaya dan spesifik tentang teologi καρδία (kardia), yang menerima rekapitulasi dalam beasiswa Cynthia Bourgeault dan lainnya.
St. Yohanes Cassian, St. Gregorius dari Nyssa, St. Maximus sang Pengaku Iman, St. Yohanes dari Damaskus, St. Ishak dari Niniwe, St. Gregorius Palamas, St. Symeon Teolog Baru semuanya menulis secara ekstensif tentang teologi kardia. Seringkali tulisan-tulisan ini menunjukkan bahwa hati adalah pusat keberadaan kita, lebih dalam dari intelek kita, dan sumber sebagian besar cara kita memandang dunia. Tidak jelas bahwa wacana teologis tentang hati ini dapat begitu saja diciutkan menjadi wacana (yang juga kaya dan spesifik) tentang nous, seperti yang kita harapkan jika Vlachos benar bahwa "kedua istilah nous dan hati dapat saling dipertukarkan."
Nous sebagai Pelayan Anti-Intelektualisme
Terkait dengan nous yang bermigrasi dari maknanya sebagai pikiran/intelek/pengertian dan runtuh ke dalam hati adalah langkah untuk menempatkan nous sebagai oposisi terhadap intelek dan nalar (kontra 1 Kor. 14:14!). Hal ini muncul dalam pernyataan yang sering diulang dalam polemik Orthodox abad ke-20 dan ke-21 seperti, "Nous bukanlah fakultas logis dan tidak pula diidentifikasikan dengan nalar," dan "nous bukanlah intelek tetapi berbeda darinya." Dengan cara ini, nous telah menjadi kuda Troya untuk jenis anti-intelektualisme yang saleh.
Apa hubungannya dengan pertanyaan awal saya mengenai antropologi sekuler? Di sini saya harus mendefinisikan apa yang saya maksud dengan sekularisme karena istilah ini, seperti nous, secara rutin disalahpahami.
Mendefinisikan Sekularisme
Sebagai seseorang yang telah berkecimpung dalam sejarah abad ke-18 dan ke-19, saya sangat sadar bahwa sekularisme, dalam arti aslinya, bukanlah gerakan anti-agama sebagai sebuah hal yang berdiri sendiri; sebaliknya, hal itu merujuk pada postur tertentu terhadap agama, yaitu membatasi spiritual ke personal dan pribadi. Seperti yang saya kemukakan dalam bab 15 buku saya baru-baru ini, Rediscovering the Goodness of Creation, leluhur agung sekularisme cukup senang agama berkembang asalkan tetap berada di jalurnya, yang memungkinkan sisa kehidupan didikte oleh liturgi berbagai pemberhalaan ekonomi dan politik (yang memposisikan diri mereka sebagai seolah-olah non-agama dan netral secara spiritual). Masalahnya, tentu saja, sejak Pencerahan, jalur yang diperbolehkan untuk agama terus menyusut, sampai sekarang secara luas diasumsikan bahwa agama harus membatasi dirinya hanya pada eksplorasi batin pribadi.
Salah satu hal menarik tentang sejarah agama abad ke-18 adalah bahwa untuk mendorong agenda privatisasi agama ini, para pemikir sekularis (misalnya, para ensiklopedis, Voltaire, Hume, Kant, dll.) harus mendefinisikan kembali sifat klaim kebenaran agama sebagai sesuatu yang secara kategoris terpisah dari rasionalitas dunia. Pada risiko penyederhanaan yang berlebihan, orang Kristen Eropa Barat cenderung berkolusi dengan sekularisme yang pada awalnya dikonsep dalam istilah pietistik yang mengaburkan lintasan ateistiknya. Kesalehan semacam itu menekankan hati di atas kepala bersama dengan kesalehan renungan yang hidup yang semakin tidak peduli dengan pemikiran Kristen tentang semua aspek kehidupan di dunia fisik. (Mereka yang ingin melihat lebih dalam kecenderungan Pencerahan ini harus berkonsultasi dengan posting blog saya sebelumnya, "Bagaimana Berpikir Seperti Orang Kristen Selama Masa Sekularisme," dan artikel saya "Pembatalan Thomas Jefferson Menandakan Berakhirnya Liberalisme Klasik.")
Ketika abad ke-18 memberi jalan ke abad ke-19, fideisme runtuh menjadi deisme dan akhirnya ateisme. Dan jika Anda memikirkannya, jalan turun dari fideisme ke ateisme masuk akal: bagaimanapun, jika kebenaran Tuhan terputus dari rasionalitas dunia, maka Tuhan terlepas dari ciptaan-Nya dan dengan demikian mungkin tidak sepenuhnya pribadi. Tetapi jika Tuhan terlepas dan tidak berpribadi, lalu bagaimana ini berbeda, sejauh menyangkut pengalaman kita, dari keadaan di mana tidak ada Tuhan sama sekali?
Pada dasarnya, jenis sekularisme ini, bahkan dalam kedok agamanya, hanya mengulang kebohongan iblis. Ketika ular berbicara kepada Hawa ("tentulah Allah berfirman?"), ia secara implisit mendorongnya untuk membayangkan ranah kebenaran yang terlepas dari kebenaran Allah, untuk mengadopsi epistemologi dua tingkat yang mengenali seperangkat prinsip alternatif untuk alam ciptaan yang dapat kita kejar secara independen dari Pencipta.
Bagaimana Kekristenan Menjadi Sekuler
Tampaknya begitu banyak Kekristenan modern yang puas mengikuti kebohongan iblis dengan menyerahkan seluruh wilayah ruang, waktu, dan nalar manusia ke hal sekuler. Tetapi dalam prosesnya, ruang yang diizinkan untuk "agama" selalu menyusut ke wilayah batin dan kesalehan pribadi, sementara Allah Pribadi yang dinamis dari Kitab Suci digantikan oleh dewa yang jauh dari rasionalitas dunia, jauh dari masalah budaya, dan terlepas dari ciptaan-Nya sendiri.
Bagi mereka dalam tradisi deisme abad ke-19 dan ke-20, epistemologi dua tingkat ini menciptakan ruang bagi Kekristenan rasionalistik yang kosong dari spiritual. Bagi mereka yang mengadvokasi bentuk kesalehan agama yang lebih murni, dualisme ini menciptakan ruang bagi Kekristenan anti-intelektual yang bersedia menyerahkan alam dan rasionalitas alam ke ruang sekuler. Tetapi dalam kedua kasus tersebut, latar belakang yang diterima begitu saja adalah jeda ontologis antara nalar dan wahyu, yang alami dan supernatural, kasih karunia dan alam, Allah dan ciptaan.
Itu membawa kita pada situasi saat ini di mana ada tekanan yang sangat besar untuk sekadar melapisi Kekristenan kita di atas dunia yang sudah dipahami dalam istilah-istilah sekuler — untuk melepaskan Gereja dari sejarah dalam semacam kripto-gnostisisme. Ini berkorelasi dengan tekanan untuk menerima antropologi yang didefinisikan oleh jenis kelenturan tak terbatas yang tampaknya dimungkinkan oleh teknologi, atau setidaknya membuatnya dapat dicapai secara teoretis.
Menyembunyikan Kekristenan dari dunia melalui epistemologi dua tingkat dan metafisika dua tingkat yang disebutkan di atas adalah bagian penting dari proyek postmodern untuk membebaskan kita dari semua struktur normatif di luar perbudakan keinginan kita sendiri. Proyek modern ini melibatkan kekerasan terhadap semua struktur yang akan membatasi kebebasan manusia untuk merancang dan mendesain ulang realitas sesuai keinginan kita, bahkan jika itu berarti mencari emansipasi dari sifat manusia itu sendiri. Kekerasan semacam itu tidak hanya terwujud dalam cara kita mengukir dunia — dan terkadang bahkan diri kita sendiri — agar lebih sesuai dengan tuntutan berat yang dituntut oleh kekaisaran keinginan; kekerasan juga terjadi dalam upaya untuk melepaskan dunia dari semua makna yang tidak diberikan oleh diri sendiri. Makna yang melekat dalam dunia harus menjadi objek kebencian yang mendalam dan akhirnya kekerasan. Tatanan yang melekat pada benda itu sendiri dan bukan diberikan oleh agen harus diperlakukan sebagai hasutan karena mengancam mimpi eskatologis yang ditimbulkan oleh fusi teknologi dan keinginan: mimpi tentang dunia yang sepenuhnya lunak terhadap impuls individu yang berubah. Sejauh visi semacam itu memfasilitasi keinginan yang tak terbatas sambil menyangkal bahwa ada sesuatu yang dapat diinginkan secara objektif, pada akhirnya ia harus terlipat ke dalam nihilisme.
Orang Kristen modern sering menentang nihilisme tanpa benar-benar memulihkan jenis realisme metafisik — digambarkan dengan sangat baik oleh Rod Dreher dalam bab kedua Opsi Benediktus, dan oleh ahli metafisika baru-baru ini seperti Michael Hanby, D. C. Schindler, dan Hans Boersma — di mana alam dipahami memiliki pentahbisan intrinsik menuju yang transenden.
Oke, sekarang setelah saya meletakkan dasar untuk memahami sekularisme, kita dapat menghubungkan titik-titik tersebut ke pertanyaan tentang nous. Mengapa saya katakan sebelumnya bahwa nous telah menjadi pelayan, tidak hanya anti-intelektualisme, tetapi juga sekularisme?
Bagaimana Nous Menjadi Pelayan Sekularisme
Pada pertengahan abad ke-20 ketika sekularisme Pencerahan menuju kedewasaan, guru-guru Orthodox mulai menggunakan kategori nous untuk mempromosikan jenis anti-intelektualisme yang berjalan di sepanjang rute yang disebutkan di atas yang digambarkan di atas (dari fideisme ke deisme ke sekularisme ke fungsional. ateisme). Memang, dengan menggunakan nous sebagai kata serapan, dan memindahkannya di dalam hati dan bukan pikiran, nous mulai mengambil beberapa konotasi fideistik bahwa "hati" sudah memiliki jangkauan semantik bahasa Inggrisnya. Hal ini terjadi tepat pada saat ketika, mengingat perkembangan sekularisasi yang disebutkan di atas, sudah ada tekanan yang sangat besar untuk merangkul bentuk-bentuk fideisme piestik dalam agenda sekularis yang lebih besar untuk melepaskan agama dari rasionalitas dunia.
Seringkali langkah-langkah ini hanya tersirat (bagian dari latar belakang yang diterima begitu saja yang diambil dari lingkungan intelektual ke-20), tetapi terkadang mereka diajarkan secara eksplisit, seperti halnya dengan Romo John Romanides, yang seluruh proyek teologisnya berkaitan dengan melepaskan Tuhan. dari dunia (dalam arti, menjadikan Allah “impersonal” dan “anonim,” menggunakan istilah-istilah dalam Patristic Theology, kumpulan ceramah yang diterbitkan dan dipopulerkan oleh Romo Peter Heers.)
Kolusi Romo John Romanides dengan perkembangan sekularisasi yang disebutkan di atas dapat dilihat pada kritik tajamnya (namun tidak meyakinkan) terhadap gagasan bahwa kita dapat menyimpulkan apa pun tentang Allah dari ciptaan, selain energi yang dihabiskannya untuk berupaya memulihkan model nominalisme metafisik. . Misalnya, pertimbangkan perayaannya atas William of Ockham dalam Teologi Patristik. Romanides memandang nominalisme Ockhamis sebagai alat yang efektif untuk memukul tradisi Rusia dengan kecenderungannya untuk melanggengkan apa yang ia duga sebagai pendekatan yang terlalu pribadi terhadap Tuhan. (Apakah Romanides secara akurat memahami para biarawan Fransiskan atau spiritualitas Rusia tidak perlu menjadi perhatian kita di sini).
Lalu apa yang dimaksud Romanides ketika ia berpendapat bahwa Tuhan tidak memiliki kepribadian? Yang terbaik adalah membiarkan kata-katanya berbicara sendiri:
"Tidak ada yang bisa mencampuradukkan kebenaran yang diciptakan dengan kebenaran yang tidak diciptakan. Keduanya bukan hal yang sama. Kebenaran yang diciptakan adalah satu hal, kebenaran yang tidak diciptakan – hal lain. Dan sejauh tidak ada kemiripan, kebenaran yang diciptakan tidak bisa menjadi cara yang dengannya kita mengetahui kebenaran yang tidak diciptakan." [Diterjemahkan oleh Vladimir Moss dalam Against Romanides].
Ketakutan akan pencampuran yang tidak pantas menyebabkan Romanides menyangkal legitimasi semua bahasa analogis: dunia, ia bersikeras, tidak memberi tahu kita apa pun tentang Allah; dunia hanya menawarkan kebenaran alami, bukan kebenaran spiritual; tidak ada kesamaan antara dunia dan Allah. Pada akhirnya, sistem dua tingkat ini meninggalkan Romanides dengan dunia yang dianggap sebagai bahan mentah belaka ke mana perspektif Orthodox dilapiskan secara eksternal – sangat berbeda dari metafisika yang lebih holistik dari pemikir seperti Romo Schmemann. Orthodoxy direduksi menjadi pandangan dunia yang dipaksakan pada dunia dari luar sementara motif struktural yang mengatur pemikiran kita dapat dijajah oleh asumsi sekuler yang laten.
Romanides tampaknya memandang reduksionisme ini sebagai fitur dan bukan bug, dengan alasan bahwa hal itu dapat menguapkan beberapa konflik antara iman dan akal yang mengambil momentum di abad ke-20, karena perpecahan besar antara liberalisme dan fundamentalisme menjadi sangat kontroversial. Bagaimanapun, jika iman dan akal publik mewakili magisteria yang tidak tumpang tindih, maka perselisihan ini menguap sebagai kesalahan kategori: iman dapat melanjutkan bisnisnya (penyucian nous, dll.) sedangkan nalar sekuler dapat melanjutkan bisnisnya.
Tentu saja, dari perspektif abad ke-21, kita tahu bahwa segala sesuatunya tidak sesederhana itu. Kita telah melihat konsep magisteria yang tidak tumpang tindih dan kiasan terkaitnya dipersenjatai dalam melayani kekaisaran keinginan dan tuntutannya atas hegemoni atas identitas kita sebagai manusia.
Mempersenjatai antropologi sekularis Romanides menjadi jelas ketika saya menyampaikan beberapa kekhawatiran ini di sebuah grup diskusi Romanides. Moderator mengumumkan bahwa masalah dengan pertanyaan saya adalah karena terkait dengan kategori "perang budaya" kontemporer, yang tidak memiliki tempat di Orthodoxy. Sekarang untuk memperjelas, saya tidak mengatakan apa pun di luar apa yang saya bagikan di atas mengenai kerajaan keinginan dan efek merusaknya pada bagaimana kita memandang pribadi manusia, dan secara sepintas saya menyebut transgenderisme dan transhumanisme sebagai contoh antropologi nihilistik. Penolakan itu mengejutkan saya karena, dari sudut pandang moral, saya tidak akan mengharapkan hal ini menjadi kontroversial di kalangan Kristen Orthodox. Dalam sanggahan saya kepada moderator, saya menunjukkan bahwa Bapa Gereja menentang nafsu sepanjang waktu, dan fakta bahwa beberapa dari nafsu ini sekarang telah dipolitisasi dalam apa yang oleh sebagian orang disebut sebagai "perang budaya" tidak mengubah kebenaran ajaran Gereja. Namun lawan bicara saya tetap bersikeras, bersikeras bahwa antropologi Romanides menyangga kita dari kekhawatiran semacam itu.
Ini mungkin terdengar aneh, tetapi bagi penggemar berat Romanides, ada konsistensi tertentu di sini. Dalam Patristic Theology dan di tempat lain, Romanides bekerja keras untuk melepaskan kehidupan spiritual dari masalah antropologi dan budaya, menghadirkan epistemologi dua tingkat sebagai fitur dan bukan bug. Mengadopsi pemahaman yang tepat tentang nous, dan semua masalah pasca-Pencerahan hilang: Kekristenan dapat bekerja di ranah yang sesuai untuknya, sedangkan dunia sains, budaya, dan nalar dapat bekerja di ranah yang sesuai untuknya.
Bahkan jika seseorang tidak menuju ke arah Romanides, Hierotheos Vlachos, dll., penyalahgunaan nous tampaknya dengan mudah mengarahkan orang percaya yang tidak menaruh curiga ke arah jenis lintasan sekularis yang digambarkan di atas. Di sini saya berbicara dari pengalaman pribadi, setelah menyaksikan polemik terkait nous membentuk dasar untuk pencarian agresif dari jenis pendekatan dua tingkat terhadap kebenaran yang, bahkan dalam kedok Orthodox, tetap menjadi sekutu antropologi sekularis.
Konsekuensi Praktis
Masalah-masalah ini menyentuh begitu banyak aspek kehidupan kita di dunia, mulai dari respons Orthodox yang tepat terhadap psikoterapi (disiplin yang ditepis Vlachos berdasarkan teorinya mengenai nous) hingga cara yang tepat untuk berteologi tentang realitas empiris seperti pandemi, peran Gereja dalam pembaruan budaya, hingga keterlibatan kita di dunia akademis. Secara signifikan, dalam percakapan dengan guru-guru Orthodox yang berpengaruh tentang pertanyaan-pertanyaan ini, saya semakin menemukan bahwa motif yang mengatur pemikiran mereka tampaknya merupakan pendekatan dualistik dua tingkat terhadap kebenaran yang menggabungkan epistemologi sekularis dengan jenis gnostisisme implisit di mana Orthodoxy menjadi terisolasi dari dunia fisik. Ini, pada gilirannya, mengarah pada jenis dualisme yang saya bahas dalam bab 16 Rediscovering the Goodness of Creation: a Handbook for Recovering Gnostics:
Apa yang sepenuhnya diabaikan adalah keberadaan tatanan kosmis yang dapat dipahami yang dapat kita pahami melalui pengetahuan objektif dan yang dapat kita tarik ketika menetapkan apa yang pantas bagi kita sebagai individu dan komunitas. Ketika tatanan kosmis yang dapat dipahami ini hilang — ketika, misalnya, bahkan orang Kristen tidak lagi memandang kodrat yang tertata dengan benar yang berdiri di atas, dan sebagai alasan untuk, perintah-perintah yang menyusun kewajiban etis kita — maka kehendak mentah Allah adalah satu-satunya mekanisme yang tersisa untuk menegaskan makna. Dalam kasus seperti itu, kita hanya perlu mengetahui apa aturannya dan mematuhinya, baik dalam kapasitas kita sebagai individu maupun dalam cara kita menata komunitas kita. Dengan demikian, perspektif Kristen tentang budaya tidak lebih dari menjajah masalah yang terisolasi, yang kemudian dinilai dalam kerangka kehendak ilahi yang telah dipisahkan dari pertanyaan teleologis dan makna ontologis yang lebih besar. Dengan kegagalan untuk mengenali logika batin dalam dunia dan sifat manusia, juru bicara Kristen menjadi tidak dapat menunjukkan normativitas tatanan moral Kristen, atau kecocokan perintah Tuhan, dalam konteks apa pun yang mendahului kemauan belaka. Hasilnya adalah bahwa kontribusi Kristen ke wacana publik sebagian besar menjadi tidak dapat dipahami oleh mereka yang berada dalam komunitas ideologis yang berbeda….
Akibatnya, alam alam, masyarakat, dan budaya pada dasarnya menjadi sekuler, dengan teisme ditambahkan di atas tatanan yang masih dipahami dalam istilah spiritual pasif. Untuk satu generasi yang dikatekisasi secara implisit di bawah asumsi semacam itu, agama Kristen menjadi semakin tidak relevan sementara etika Alkitab menjadi semakin anakronistik, karena baik agama maupun etika dipahami sebagai tambahan bagi dunia yang sudah dipahami dalam istilah-istilah sekuler.
Begitu iman memiliki tipe hubungan ekstrinsik ini dengan dunia, kita tidak dapat lagi dengan tepat memahami karya Roh dalam hidup kita, yang harus direduksi menjadi sesuatu yang mekanis dan sepenuhnya ekstrinsik – semacam kemunduran ke model grace pada Skolastikisme Kedua. Memang, mengingat jenis jurang ontologis yang diposisikan Romo Romanides antara alam dan supernatural, maka dapat disimpulkan bahwa pekerjaan Roh dalam hidup kita dan di dunia tidak akan pernah bisa melampaui sekadar pemaksaan ekstrinsik ke alam yang mana, dalam keadaan purba, otonom dan non-teleologis. Memang, alih-alih anugerah membebaskan makhluk untuk mencapai apa yang sudah menjadi tujuan alami mereka (misalnya, dengan mengarahkan hati yang gelisah ke asal dan tujuan yang tepat dari kerinduan utama kita), pembagian ontologis ini berarti bahwa pekerjaan Tuhan dalam hidup kita melalui Penyucian, Iluminasi, dan Theosis hanya dapat dikaitkan dengan jiwa secara ekstrinsik. Karena begitu kita mengakui bahwa sifat kita sebagai makhluk rasional mencakup penahbisan intrinsik terhadap atribut-atribut transendental (dan oleh karena itu tidak diciptakan) dari keadaan seperti kebaikan, kebenaran, dan keindahan, menjadi tidak mungkin untuk terus mempertahankan jenis segel kedap udara antara apa yang Romanides sebut "kebenaran yang diciptakan" dan "kebenaran yang tidak diciptakan."
Membingkai Pertanyaan
Sekarang saatnya untuk mengambil alur dan membingkai pertanyaan (atau lebih tepatnya, serangkaian pertanyaan) yang tersisa.
Saya mulai dengan pertanyaan, “Apakah antropologi Ortodoks baru ini tanpa disadari merupakan hamba bagi ateisme?” Dalam proses menjelaskan pertanyaan saya, saya yakin bahwa saya telah menjawabnya untuk diri saya sendiri. Tapi itu tidak berarti tidak ada kebingungan yang tertinggal. Memang, salah satu hal yang meresahkan bagi saya adalah melihat kecenderungan-kecenderungan sekuler ini nampak muncul paling kuat di kalangan guru-guru dan komunitas (termasuk biara-biara) yang tampaknya, pada satu tingkat, merupakan pihak yang paling serius dan bersemangat untuk mengikuti versi Ortodoksi yang murni.
Pertanyaan ini dapat dibedakan, meskipun tidak sepenuhnya terpisahkan, dari pertanyaan linguistik mengenai arti kata nous. Dan mengenai hal itu, apakah benar bahwa banyak kebingungan muncul akibat kegagalan dalam membedakan pertanyaan-pertanyaan berikut, dan malah mengaburkannya sehingga seolah-olah jawaban untuk satu pertanyaan pasti menjadi jawaban untuk pertanyaan yang lain?
Apa arti (atau arti-arti) dari nous bagi St. Paulus?
Apa arti (atau arti-arti) dari nous bagi para Bapa Gereja yang berbahasa Yunani (yang tentu saja bisa dibagi lagi berdasarkan tempat dan periode, dan bahkan oleh penulis)?
Apa arti dari nous sebagaimana kata itu digunakan pada bahasa Inggris abad ke-20 sebagai kata serapan?
Bagaimana kita tahu bahwa nous, dalam pengertian yang berlaku dalam bahasa Inggris, itu benar-benar ada? Tentu, seseorang dapat mendeskripsikan operasi yang terjadi pada manusia dan memberikan nama pada operasi tersebut, tetapi itu tidak berarti nama-nama tersebut merujuk pada entitas nyata (baik yang terlihat maupun tidak terlihat) yang benar-benar ada, bukan? Inilah sebabnya mengapa saya untuk sementara menyimpulkan bahwa nous tidak ada, yang artinya istilah tersebut tidak merujuk pada sesuatu yang ontologis objektif.
Ketika berbagai guru Ortodoks abad ke-20 dan ke-21 telah merujuk pada berbagai konsep terkait nous untuk mendukung agenda teologis dan epistemologis tertentu, seperti yang dijelaskan sebelumnya, apakah agenda-agenda ini benar, tepat, atau berguna?
Temuan Lebih Lanjut
Sejak menulis surat di atas, saya memiliki kesempatan untuk membahas masalah ini dengan berbagai sarjana, dan untuk terlibat dalam penelitian sejarah yang lebih mendalam. Dalam prosesnya saya belajar bahwa hubungan antara nous, hati, pikiran, dan roh lebih rumit daripada yang saya izinkan di awal. Selain itu, dalam melihat sejarah kata ini, saya terpaksa memodifikasi beberapa pemikiran saya sebelumnya.
Ancaman Sekularisme Dua Tingkat Terus Mengintai
Tapi biarkan saya tidak terlalu tergesa-gesa. Sebelum mulai membagikan apa yang saya temukan, saya perlu menekankan bahwa bahaya model metafisik dua tingkat tetap mendesak.
Mengingat bahwa St. Gregorius dari Nyssa, St. Agustinus dari Hippo, Pseudo-Dionysius sang Areopagus, dan sejujurnya semua filsuf besar dari tradisi kita, telah menegaskan bahwa makhluk rasional diinvestasikan dengan predisposisi menuju Kebaikan, Kebenaran, dan Keindahan, dan mengingat bahwa para pemikir ini telah menegaskan bahwa kerinduan kepada Allah adalah panggilan yang melekat pada kodrat kita, maka harus disimpulkan bahwa pekerjaan Allah dalam hidup kita dan dunia tidak dapat dipahami sebagai penjajaran ekstrinsik alam yang diperdamaikan satu sama lain. Kita juga tidak dapat mengatakan bahwa apa pun yang menarik kita ke kebaikan berada di luar diri kita sebelumnya dari transformasi kita. Kita juga tidak dapat mengatakan bahwa kasih karunia tidak bersinambung dengan alam, sebagai semacam tambahan superannuated pada apa yang kita ada dalam kondisi utama kita. Sebaliknya, karya Kristus adalah pembentangan dan realisasi dari sifat sejati manusia dan dunia—sifat yang, meskipun dipelintir dan dirusak oleh dosa, tetap berorientasi kepada Allah dalam orientasi utamanya. (Saya baru-baru ini membahas hal ini di beberapa podcast AFM, di sini dan di sini.) Dengan demikian, theosis melibatkan penataan yang benar dari kerinduan kita akan transenden, dan pengarahan ulang hati yang gelisah ke arah Dia yang adalah baik asal dan tujuan akhir dari apa yang secara alami kita inginkan.
Bahkan fakta bahwa iblis tidak dapat menawarkan telos yang menyaingi Tuhan, tetapi hanya salah mengarahkan kerinduan kita kepada-Nya (misalnya, dengan memutarbalikkan dan mendistorsi kerinduan kita akan apa yang baik, benar, dan indah), menggarisbawahi orientasi alam dan dunia kita yang berpusat kepada Tuhan. Ini adalah metafisika dasar Kristen, namun tetap tidak sesuai dengan sistem dua tingkat yang mana pun yang akan memaksakan pemisahan tajam antara kodrat dan alam yang maha kuasa, kasih karunia dan ciptaan, rasionalitas dunia, dan prinsip-prinsip kehidupan spiritual. Ini juga tidak sesuai dengan metafisika anti-metafisika yang diadvokasi Romanides dalam karya-karya seperti Ancestral Sin dan Patristic Theology yang menciptakan arsitektur teologis yang lebih besar untuk ajarannya tentang nous. Bagi Romanides, kasih karunia dan alam tidak akan pernah bisa "bercampur" karena yang diciptakan benar-benar terpisah dari yang tidak diciptakan, yang pertama tidak memiliki "kemiripan" dengan yang kedua. Akibatnya, sifat yang diciptakan hanya dapat diperdamaikan dengan Allah yang tidak diciptakan melalui semacam paksaan.
Nous: Dari Plato hingga Paul
Pertanyaan tentang nous tetap sulit, bahkan lebih sulit dari yang saya sadari ketika saya menulis surat di atas. Bagian dari komplikasi ini muncul dari cara istilah seperti nous, hati, roh, dan pikiran telah berkembang dari waktu ke waktu. Untuk beralih kembali ke diskusi itu, saya ingin kembali ke bagian Paulus dalam suratnya kepada jemaat Korintus. "Karena jika aku berdoa dengan bahasa roh, rohku yang berdoa, tetapi pengertianku [gk. nous] tidak membuahkan hasil." (1 Korintus 14:14)
Bagian ini harus dipahami mengingat pandangan dunia klasik yang membentuk latar belakang bagaimana orang Kristen berbahasa Yunani menggunakan istilah-istilah ini. Di dunia klasik, intelek (nous) adalah organ persepsi yang melaluinya kita memahami atau memperhatikan (νοεῶ / noeō) hal-hal yang berkaitan dengan noetic (νοητικός / noetic) alam, sama seperti dengan indera kita memahami hal-hal yang berhubungan dengan dengan ranah empiris.
Baik Plato maupun Aristoteles membuat pembedaan antara dua jenis pengetahuan: pengetahuan noetic (pengetahuan dengan intelek) dan pengetahuan inderawi (pengetahuan dengan indera). Ini terbawa ke dalam bahasa Latin, di mana nous biasanya diterjemahkan sebagai intellectus atau mens (pikiran). Untuk menerjemahkan nous sebagai intelek atau pikiran adalah dengan memusatkan perhatian pada nous sebagai suatu kekuatan atau kemampuan (yaitu kemampuan bawaan) dari jiwa. Jika Anda berfokus pada aktivitas atau tindakan kekuasaan ini, terjemahan standarnya adalah "understanding" (yang dalam bahasa Latin juga merupakan intellectus, atau kata kerja intelligere).
Ketika para filsuf kuno berbicara tentang pengetahuan dengan intelek, mereka tidak mengartikan intelek dalam arti sebagai organ analisis dan penalaran diskursif. Penalaran diskursif dapat memungkinkan pengetahuan noetic/intelektual dan pengetahuan yang masuk akal (pengetahuan melalui indera), sama seperti kita mungkin mengatakan bahwa teleskop memungkinkan pengetahuan tentang bintang dan planet. Namun, sebagaimana kita tidak akan salah mengira objek pengetahuan astronomi dengan teleskop, demikian pula orang zaman dahulu tidak salah mengira alat perolehan pengetahuan (baik noetic maupun indera) dengan pengetahuan itu sendiri. Juga tidak orang dahulu mengerti intelek sebagai organ perhitungan maupun organ untuk mengarang. Sekali lagi, itu adalah organ persepsi yang melaluinya kita memperhatikan hal-hal yang sesuai dengannya, yaitu objek pengetahuan noetic. Objek-objek pengetahuan noetic mencakup kebenaran-kebenaran yang abstrak dan universal alih-alih yang konkret dan khusus, sementara bagi Plato, pengetahuan noetic juga menyertakan kesadaran akan bentuk-bentuk.
Berbagai pemikir Yunani tidak sepakat mengenai bagaimana wilayah noetic dan dunia empiris itu terkait. Sebagai contoh, Plato berpendapat bahwa pengetahuan noetic lebih bernilai ketimbang pengetahuan lewat panca indera, sementara Aristoteles menempatkan keduanya pada tingkat yang sama. Meskipun begitu, semua pemikir zaman kuno menyepakati bahwa kita punya akses ke kedua macam pengetahuan tersebut, dan bahwa akal budi atau nous adalah instrumen persepsi. (Untuk penjelasan selengkapnya, saya sarankan menyimak siniar Lord of the Spirits episode nous.)
Mengingat konteks ini, wajar jika Paulus akan menyatakan bahwa jika dia mendengar sebuah doa dalam bahasa roh yang tidak dikenal, nous-nya tidak membuahkan hasil. Lagi pula, jika isi doanya tidak dapat dipahami, maka tidak ada pikiran / nous yang dapat dipahaminya. Namun dalam perikop ini Paulus mengenali tipe persepsi yang lebih dalam dari pengetahuan noetic, yaitu persepsi spiritual. Semangat seseorang dapat diteguhkan bahkan ketika orang banyak tidak membuahkan hasil (sebuah prospek prospek dari ajaran Paulus yang tidak ia rekomendasikan kepada pembacanya di Korintus!)
Hati: Dari Homer ke Neoplatonisme
Gagasan bahwa kita memiliki kapasitas untuk persepsi yang lebih dalam dari pengetahuan noetic menjadi fitur perkembangan pemikiran Kristen mengenai teologi hati, direferensikan pada huruf di atas.
Dalam bahasa Yunani klasik, hati (kardia / καρδία) pada umumnya merujuk pada bagian jiwa yang berhubungan dengan emosi, hasrat, dan dorongan gairah. Misalnya, dalam Iliad, Homer menggambarkan hati Achilles mendidih di dalam dadanya saat dia marah. Demikian pula, di Odyssey, saat Odysseus dicemooh oleh orang-orang Phaeacia setelah menolak berpartisipasi dalam olahraga mereka, dia menyatakan, "Saya menemukan hati saya di dalam tulang rusuk saya terangsang olehmu." Tabib Yunani Galen (AD 129- c. 200/216) percaya bahwa hati adalah pusat emosi gairah, termasuk nafsu makan, mudah marah, dan gairah seksual (concupiscent) Roh. Namun, ada juga tema yang berulang bahwa hati dapat ditebus jika diserahkan pada akal.
Untuk memahami konteks dari potensi hati yang lebih positif ini dan bagaimana ia dikembangkan oleh orang-orang Kristen, kita harus melihat kembali Plato. Filsuf asal Athena ini telah mengajukan sebuah psikologi tiga bagian yang membagi jiwa manusia ke dalam:
Fakultas rasional di bagian paling atas (terkait dengan intelektual atau nous);
Fakultas semangat atau enerjik di tengah (terkait dengan thumos atau "roh" dalam pengertian bersemangat);
Fakultas hasrat yang ada di bagian bawah (sesuai dengan fungsi organ perut dan alat kelamin).
Thumos berfungsi sebagai perantara antara kemampuan intelektual (nous) dan kemampuan nafsu (appetitive), serta bertanggung jawab untuk melaksanakan kehendak kemampuan intelektual dan mengarahkannya pada tujuan yang luhur. Namun perlu dicatat bahwa pembagian tiga bagian menurut Plato ini tidak mencakup hati. Saat Plato membahas mengenai hati, ia terutama menggunakannya sebagai sebuah perumpamaan untuk mewakili elemen emosional dan penuh gairah dari jiwa.
Para pemikir Yunani selanjutnya tetap mempertahankan konsep psikologi tiga bagian ala Plato, tetapi menambahkan hati pada tingkat menengah ini, dan mengaitkannya dengan thumos atau aspek bersemangat dari manusia. Hal ini membantu mengurangi kecenderungan untuk hanya melihat hati sebagai pelengkap gairah nafsu semata. Daripada hati dikuasai oleh naluri rendahan yang mendorong perilaku serupa binatang, hati kita dapat diatur oleh akal sehat, di mana perasaan kita menjadi tertib.
Penyisipan hati ke tingkat menengah dari psikologi tripartit Plato terlihat pada periode Helenistik dan menjadi lebih dominan dalam Neoplatonisme ketika hati mulai dilihat sebagai pusat penting untuk kehidupan fisik dan emosional. Dan sekali lagi, penekanannya selalu pada hati berfungsi dengan baik bila diatur oleh akal budi.
Hati dan Roh dalam Kekristenan
Hingga abad keempat, terdapat tumpang tindih antara pemikiran Kristen dan Neoplatonisme, yang digambarkan dengan sangat baik oleh C.S. Lewis pada bab-bab awal buku The Discarded Image. Akhirnya, kekristenan menggantikan Neoplatonisme sebagai filsafat yang berkuasa, tetapi dengan tetap mempertahankan dan memberikan corak Kristen pada berbagai elemen dari Neoplatonisme. Sejalan dengan perkembangan ini, sejumlah kategori penting pun mulai bertransisi. Dalam pemikiran Kristen, hati tetap menjadi fokus utama, tetapi titik beratnya bergeser dari dikuasai oleh akal budi/intelektual/nous menjadi dikuasai oleh roh. Namun di sini, makna roh berbeda dengan pemahaman Plato, dan bahkan memakai kata Yunani yang berlainan (yaitu pneuma, bukan thumos).
Dalam pemikiran Kristen, "roh" mengacu pada roh Allah yang diberikan kepada orang Kristen pada saat baptisan, yang sering dikenal sebagai Roh Kudus dan pribadi kedua dari Trinitas yang Terberkati. Atau "roh" dapat merujuk pada roh kita sendiri yang berkomunikasi secara langsung dengan roh Allah. (Penggunaan kata pneuma ini juga memiliki akar dalam pemikiran Yunani. Pada periode klasik Yunani, pneuma merupakan kekuatan yang tidak bersifat fisik, tidak terlihat, dan sering kali bersifat ilahi atau supernatural yang memberikan kehidupan dan menggerakkan segala sesuatu, dan juga napas atau energi vital yang memberi kehidupan kepada makhluk hidup.)
Teologi roh Kristen membantu kita memahami tahap selanjutnya dalam evolusi antropologi tripartit Plato. Pembagian tiga manusia masih tetap berlaku, meskipun sekarang manusia berkembang bukan melalui akal yang menguasai hati, tetapi melalui roh yang menguasai akal dan hati. Masih ada kemungkinan—seperti yang ada dalam tradisi Neoplatonik—bahwa nafsu-nafsu gairah akan menarik hati ke bawah, namun solusi yang ditawarkan oleh teologi Kristen bukan sekadar kekuasaan kecerdasan atas hati, melainkan kekuasaan roh Tuhan. Hanya dengan demikian jiwa manusia dapat tertata dengan benar.
Gagasan bahwa Tuhan dapat menguasai jiwa dengan berkomunikasi dengan hati kita membuka ruang bagi hati untuk mengambil konotasi yang lebih positif daripada di periode awal Kristen. (Ini juga sebagian karena pengaruh tradisi Ibrani pada teologi Kristen, tetapi itu cerita lain.) Kita melihat pergeseran ke pemahaman hati yang lebih positif ini dalam berbagai penulis. St Agustinus dari Kuda Nil, meskipun menulis dalam bahasa Latin, berperan sentral dalam menunjukkan bagaimana teologi hati berkembang dalam pemikiran Kristen. Kami juga menemukan penekanan yang sama pada penutur bahasa Yunani seperti dalam kutipan dari Macarius yang saya kutip pada surat di atas.
Sentralitas hati dalam teologi Kristen menawarkan kosakata yang kaya untuk membahas peran kasih sayang kita dalam mendorong gerakan jiwa menuju Allah, dan peran theosis dalam menguduskan kasih sayang kita. Ini adalah poin C.S. Lewis di The Abolition of Man, aslinya berjudul Men Without Chests. Lewis mengacu pada psikologi tripartit Neoplatonisme, tetapi berpendapat bahwa teori pendidikan modern digabungkan dengan materialisme filosofis telah menumpulkan bagian afektif manusia (dada atau hati), mengurangi ketidaksukaan kita menjadi hanya epifenomena subjektif. Ini telah menghasilkan masyarakat laki-laki tanpa dada, dengan kata lain, kelompok siswa yang kemampuannya untuk menyenangkan yang indah telah dimusnahkan. Argumen Lewis adalah bahwa agar siswa diarahkan pada kebaikan, mereka harus terlebih dahulu memiliki hati yang dimeriahkan oleh yang luhur — untuk merasakan kenikmatan pada apa yang benar-benar indah. Dalam pengertian ini, guru memiliki tugas mengairi gurun, membangunkan bagian tengah manusia yang menengahi naluri rendah kita dan rasionalitas kita yang lebih tinggi. Teologi hati ini tidak unik untuk Lewis, melainkan sesuatu yang ia dapatkan langsung dari St. Augustine, yang mana St. Augustine sendiri mengambil alih bagaimana konsep hati berfungsi dalam Neoplatonisme, baik di Timur maupun Barat?
Cukuplah untuk mengatakan, telah ada wacana Kristen yang kaya tentang teologi hati, dan wacana ini tidak bisa begitu saja runtuh ke dalam wacana (juga kaya dan khusus) tentang the nous, seperti halnya guru-guru Orthodox modern ingin menjadikan heart dan nous dapat saling bertukar. Tapi saya tidak perlu mengulangi poin yang sudah dibuat di surat di atas.
Namun... di era Kristen yang terus berkembang, wacana tentang hati dan nous malah semakin mendekat dari yang awalnya saya perkirakan. Hal ini terjadi karena teologi tentang roh.
Roh, Hati, dan Nous
Fakta bahwa para pemikir Kristen menekankan perlunya hati (kardia) diserahkan kepada Tuhan, di samping perlunya pikiran (nous) kita sejalan dengan Roh Tuhan (Ef 4:23), menghasilkan baik kardia maupun nous. mengalami beberapa permutasi dari rentang semantik yang dinikmati istilah pada zaman klasik Paulus.
Sementara beberapa pemikir (Origen, Clement dari Alexandria) masih menggunakan kata nous dalam pengertian lama untuk merujuk pada akal sehat, sejumlah bapa gereja (termasuk St. Gregorius dari Nyssa dan St. Maximus sang Pengaku Iman) mulai membahas hal nous sebagai fakultas spiritual daripada murni rasional (meskipun bersikap adil, dalam Platonisme dan Neoplatonisme, ada semacam spiritualitas melekat pada pengetahuan noetic).
Namun, bahkan dalam arti ini, konsep nous tak pernah kehilangan esensi awalnya dalam pemikiran klasik sebagai instrumen untuk memahami, tidak pula terjerembap ke dalam bentuk pandangan anti-intelektual seperti yang telah diuraikan sebelumnya, serta tak menjadi istilah yang bisa ditukar tempat dengan kata hati, sebagaimana yang diutarakan oleh Romanides dan Vlachos. Akan tetapi, ada hal yang berubah, yakni nous dan hati saling mendekat melebihi sebelumnya, berkat ikatan antara keduanya dengan jiwa kita yang dihidupkan oleh Roh Kudus. Pada lingkungan yang kian berkembang ini, hati tetap dianggap sebagai pusat perasaan kita, yang menurut Para Bapa dapat dilatih lewat disiplin asketik dan teologi, namun juga menjadi sumber pencobaan (dan "sungguh jahat") apabila terpisah dari Tuhan.
Ringkasan
Pada titik ini, akan berguna untuk berhenti sejenak dan merangkum pembahasan yang telah dipelajari sejauh ini.
Saat pemikiran Kristen berkembang, hati kemudian dipandang memainkan peran dalam persepsi spiritual. Hal ini mesti dipahami dengan berlatar belakang filsafat klasik yang mendasari kekristenan. Bangsa Yunani zaman dulu menyambungkan hati dengan perasaan dan gairah. Meskipun teori psikologi tiga bagian Plato tidak menyertakan peran hati, namun para pemikir Yunani generasi berikutnya menginkorporasikannya, dan menempatkannya pada bagian tengah dalam struktur tripartit Plato. Saat orang Kristen berdiskusi soal hati, psikologi tripartit masih digunakan, namun fokus utamanya berpindah dari intelektual/pemikiran yang mengatur hati, menjadi roh yang memerintahnya. Hati masih bisa ditaklukkan oleh hawa nafsu yang kuat, namun kini jalan keluarnya adalah dengan berserah diri kepada Roh Kudus, yang tinggal di dalam diri orang-orang yang beriman sesudah dibaptis. Karena Roh Tuhan mengendalikan pemikiran (nous) dan juga perasaan (hati), keduanya lantas sejalan pada khotbah Patristik yang perlahan muncul, meskipun konsep kardia dan nous tidak pernah disatukan seperti pada sejumlah tokoh abad ke-20 yang saya singgung pada surat terdahulu.
Evolusi Berkelanjutan Nous
Itu bukanlah akhir dari cerita sejauh menyangkut pikiran (nous). Sama seperti ada teologi hati yang berkembang, begitu pula ada teologi nous yang terus berkembang.
Sepanjang era Kristen, nous terus berfungsi sebagai kemampuan untuk mencapai pengetahuan noetic, tetapi objek dan sarana pengetahuan noetic mengambil dimensi teologis yang tidak ada di zaman Yunani kuno. Pengajar seperti St. Gregorius dari Palamas (1296–1359) menekankan peran pengetahuan empiris tentang Tuhan melalui rahmat ilahi dalam pengetahuan noetic, perlunya nous disucikan dan diterangi melalui praktik pertapaan, dan gagasan (yang ada, seperti yang kita lihat, di Plato dan Aristoteles) bahwa pengetahuan noetic dapat dibedakan dari analisis diskursif murni. Hal terakhir ini telah menjadi inti agenda anti-intelektual yang terkait dengan polemik nous yang tak berkesudahan di dalam Ortodoksi kontemporer. Namun, kita harus ingat bahwa Palamas sebenarnya menganggap analisis diskursif, meskipun berbeda dengan penangkapan noetic langsung, masih merupakan sarana persepsi, seperti yang dibuktikan oleh penghargaan tinggi Palamas terhadap Thomas Aquinas.
Sebagian alasan dari teori-teori nous anti-intelektual ini muncul dari terjemahan yang salah, yang secara tidak sengaja telah memperkuat beberapa tren sekularisasi yang dibahas sebelumnya. Akan sangat membantu untuk mengeksplorasi secara singkat alasan-alasan penerjemahan yang salah ini sebelum menawarkan beberapa saran tentatif untuk menemukan jalan ke depan yang paling bijaksana.
Nous dan Masalah Intuisi
Salah satu faktor yang menyebabkan kesalahan terjemahan adalah kebingungan mengenai "intuisi." Nous kadang-kadang diterjemahkan sebagai "intuisi," yang sejalan dengan pandangan anti-intelektual dari para pemikir yang disebutkan sebelumnya.
Saat membahas intuisi, seseorang harus memahami konteks dari makna asli kata Latin intuitus, yang secara harfiah berarti "menatap." Baru belakangan ini "intuisi" berarti perasaan, firasat, atau tebakan. Dalam banyak filsafat kuno dan Kristen awal, nous adalah kekuatan jiwa yang tindakannya adalah "melihat" dengan mata pikiran. Ini adalah pandangan intelektual yang seluruhnya terpisah, atau bisa jadi demikian, dari panca indera.
Intuisi dalam pengertian kuno ini tidak boleh dipahami sebagai lawan dari akal. Namun, ada perbedaan antara penalaran diskursif dan intuisi, yang sepadan dengan perbedaan antara mencari sesuatu dan melihatnya, atau antara mencari dan menemukan. Pikiran atau kecerdasan adalah subjek dari kedua aktivitas tersebut. Saat pikiran sedang mencari sebuah jawaban, pikiran akan mencari tahu, memecahkan masalah dalam suatu proses yang membutuhkan waktu dan usaha. Di situlah penalaran diskursif dan ratio Latin (rasional/alasan) atau dialektika (διαλεκτική / dialectike dalam bahasa Yunani) memainkan perannya. Tapi saat nous atau intellectus Latin berfungsi sebagai intuisi, nous tersebut hanya melihat jawabannya, menikmati apa yang telah ditemukannya dan merenungkannya; tidak ada lagi proses menuju tujuan, karena tujuannya sudah tercapai. C.S. Lewis menjelaskan konsep ini dalam pembahasannya tentang intellectus di bagiannya tentang jiwa rasional dalam The Discarded Image, bab 7. "Kita sedang menikmati intellectus," tulisnya, "saat kita 'hanya melihat' sebuah kebenaran yang terbukti dengan sendirinya; kita menggunakan rasio saat kita melanjutkan selangkah demi selangkah untuk membuktikan sebuah kebenaran yang tidak terbukti dengan sendirinya."
Dengan kata lain, penalaran diskursif berarti kerja keras mencari tahu, seperti ketika Anda sedang mengerjakan soal matematika. Sebaliknya nous atau intellectus qua (sebagai) intuisi adalah apa yang terjadi ketika Anda menemukan solusi untuk masalah tersebut dan berkata, “Aha! Sekarang saya melihatnya!” Proses ini merupakan momen intelektual yang sangat penting, tetapi bukan "semata-mata intelektual," seolah-olah kecerdasan adalah mesin hitung yang dingin. Dalam pemikiran Agustinus, penglihatan intuitif juga merupakan momen kegembiraan murni dan komponen esensial dalam konsepnya mengenai kebahagiaan. Inilah pemahaman kuno tentang intuitus Latin, dan tak punya kaitan sama sekali dengan arti modern "intuisi," meskipun nous sering kali diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris sebagai "intuisi" untuk merujuk ke konsep lama ini. Ini bisa menciptakan kekacauan, utamanya saat—berdasarkan argumen yang sudah dibahas tadi—nous telah memiliki andil penting dalam gerakan modifikasi anti-intelektual.
Nous dan Persoalan Hati
Alasan lain untuk kesalahpahaman nous berasal dari latar belakang Ibrani, yang sangat sedikit saya katakan sejauh ini. Istilah Ibrani kuno untuk hati sering diterjemahkan ke dalam versi bahasa Inggris Perjanjian Lama sebagai "pikiran". Istilah Ibrani lain yang diterjemahkan sebagai "pikiran" adalah kata untuk ginjal. Bagi orang Ibrani kuno, "hati" (lev atau levav) adalah lokus pikiran dan perasaan, jadi menerjemahkannya sebagai pikiran sama sekali tidak tidak masuk akal.
Pemikir Latin (Augustine dan pemikir abad pertengahan lainnya) memahami hal ini, dan bagi mereka "hati" (cor dan cordis dalam bahasa Latin) mencakup kecerdasan dan kehendak, dan dengan demikian merupakan lokus pemahaman serta kecintaan. Kami melihat hubungan antara hati dan kecerdasan bahkan dalam Perjanjian Baru, ketika Yesus mengetahui pikiran yang ada di dalam hati orang Farisi. Penggunaan Biblika ini, yang sulit untuk dilewatkan dalam terjemahan yang layak, memang membenarkan identifikasi nous yang memenuhi syarat dengan hati, asalkan seseorang menyadari bahwa identifikasi berjalan dua arah: hati Alkitab meliputi pemahaman klasik Yunani tentang nous / kecerdasan; namun hal itu juga mencakup cinta, kemauan, perasaan, kesenangan, penderitaan, dll. Namun, seperti yang dijelaskan oleh C.S. Lewis, hal ini menyulitkan penerjemahan bagi para pembaca bahasa Inggris yang telah memandang hati dengan pandangan sentimentil. Dari Lewis:
Kata Ibrani yang ditampilkan St Paulus melalui καρδιά akan lebih dekat bila diterjemahkan menjadi "Pikiran"; dan dalam bahasa Latin, orang yang cordatus bukanlah orang yang berperasaan melainkan orang yang berakal sehat. Namun belakangan, ketika semakin sedikit orang yang berpikir dalam bahasa Latin, dan etika perasaan yang baru menjadi populer, penggunaan kata hearts ala Paulus ini mungkin tampak mendukung kebaruan tersebut. [The Discarded Image, bab 7]
“Etika baru perihal perasaan” yang disebut Lewis perlu penjelasan lebih mendalam, karena hal itu lebih jauh menyoroti sejumlah faktor yang memicu pembaca berbahasa Inggris menyalahpahami konsep hati, dan akibatnya menyalahartikan nous jika didefinisikan dengan menggunakan kata heart (hati).
Melalui jalur yang membentang dari era Pencerahan (khususnya aliran yang diwakili oleh Rousseau) hingga gerakan romantis, pada abad ke-19, konsep "heart" dalam bahasa Inggris menjadi terkait dengan urusan dalam negeri, sejenis naluri keibuan yang menyeimbangkan utilitarianisme yang perhitungan di dunia industri. Bukannya menjadi fungsi energik dan bersemangat yang perlu latihan, hati malah menjadi sesuatu yang jinak dan tidak berbahaya.
Dalam pengertian baru ini, hati tetap integral dengan etika tetapi sebagai alternatif alasan sebagai organ moralitas. "Hampir semua moralis sebelum abad kedelapan belas menganggap Rasio sebagai organ moralitas," C.S. Lewis mencatat, sekali lagi dari The Discarded Image. Tetapi ketika hati (sekarang didomestikasi) menjadi inti dari penalaran moral, penggunaan akal untuk penilaian moral dianggap benar-benar menunjukkan pandangan etis yang cacat, di mana tokoh-tokoh seperti Bentham, Galton, atau (dalam fiksi) Gradgrind kemudian menjadi perwujudannya. Karena alasan dipersempit untuk mengecualikan kasih sayang, menjadi hanya sebuah fakultas penghitungan, sehingga hati menjadi terlepas dari alasan, meninggalkan pertanyaan tentang kasih sayang yang tertata secara rasional (pada suatu waktu pertanyaan sentral etika), untuk surut menjadi anakronisme.
Setelah mewarisi jaringan kebingungan seperti itu, istilah bahasa Inggris "heart" menjadi hampir tidak berguna untuk tujuan filsafat dan teologi. Tentu saja, terjemahan harus bekerja dengan kata-kata bahasa Inggris yang tersedia, tetapi setidaknya kita harus berhenti mengatakan bahwa bahasa Yunani nous dan hati bahasa Inggris dapat dipertukarkan.
Nous dan Masalah Roh
Namun alasan lain untuk kesalahpahaman dan salah terjemahan muncul dari twist aneh dalam sejarah terjemahan. Kata-kata kuno untuk pikiran, termasuk nous dan intellectus, diterjemahkan ke dalam banyak bahasa Eropa ke dalam kata-kata yang dapat berarti pikiran dan roh. Baik bahasa Prancis esprit maupun bahasa Jerman geist dapat diterjemahkan sebagai "pikiran" maupun "roh". Ini bukan cara kerja bahasa Inggris, tentu saja, tetapi itu memengaruhi cara berpikir banyak penulis Eropa. Secara signifikan, kemungkinan hal ini memengaruhi para teolog Yunani dan Rusia, yang sering mengambil ilmuwan Perancis dan Jerman dan mungkin tidak memiliki kepekaan terhadap sejarah kompleks kata-kata ini. Cendekiawan yang berhati-hati harus mampu menghindari kerancuan semacam itu, mengingat nous tidak pernah kehilangan arti yang mendasarinya dalam kecerdasan.
Saran Tentatif Untuk Melangkah Maju
Setelah mempertimbangkan perjalanan rumit dari kata nous, dan kecenderungannya untuk disalahpahami secara besar-besaran dan digunakan untuk tujuan-tujuan yang merusak, pertanyaan-pertanyaan berikut ini secara alami muncul:
Haruskah kita membuang sama sekali kata nous?
Jika kita mempertahankan istilah ini, apa jalan terbaik untuk menghadapinya?
Bagaimana kita harus menerjemahkannya?
Tadi saya menyarankan bahwa istilah nous telah menjadi sangat tidak padu sehingga saya mulai ragu apakah itu bahkan merujuk pada sesuatu yang benar-benar ada. Namun karena kata itu digunakan oleh penulis kitab suci dan bapa Yunani, kata itu jelas merujuk pada sesuatu, bahkan jika menerjemahkannya ke dalam bahasa Inggris terbukti sulit.
Sedikit teori kebahasaan mungkin membantu kita memperjelas sifat dari masalah ini. Adalah baik untuk mengingat bahwa terkadang istilah-istilah menjadi memiliki definisi teknis yang tepat dan sangat berbeda dari makna asli dari istilah tersebut. Sebagai contoh, "virus" tadinya berarti setiap agen infeksi yang lebih kecil dari bakteri, namun saat ini istilah tersebut memiliki makna teknis yang lebih spesifik untuk merujuk pada suatu jenis agen infeksius yang terdiri dari materi genetik yang dikelilingi oleh lapisan pelindung yang berupa protein. Serupa dengan hal itu, kata "gen" aslinya dipakai guna menunjuk unit dasar keturunan, akan tetapi sesudah munculnya biologi molekuler, gen jadi merujuk pada segmen DNA tertentu yang menjadi kode untuk molekul protein atau RNA tertentu. Maka, pada dasarnya tidak ada masalah jika kita mengakui bahwa terlepas dari riwayat kuno dan/atau modern mengenai nous, serta masalah terjemahannya, istilah ini memiliki arti teknis tersendiri dalam kehidupan rohani dan teologi Ortodoks saat ini. Apa makna itu? Begini kawan saya, Dr. David C. Ford menjelaskannya untuk saya.
Pemahaman saya tentang nous dalam teologi dan kehidupan spiritual Ortodoks adalah bahwa, terlepas dari sejarah kuno dan/atau modern dari penggunaan kata ini, itu telah menjadi kata yang tepat. , istilah teknis dalam Ortodoksi, yang artinya kira-kira seperti ini: Nous adalah kemampuan bawaan, yang bersemayam di dalam hati, yang dengan dan melaluinya manusia memahami realitas spiritual yang diungkapkan kepada mereka oleh Tuhan, yang mungkin kemudian dapat mereka coba sampaikan dengan kata-kata.
Dan saya pikir kita mungkin menambahkan bahwa nous bersarang di dalam hati setiap manusia hanya karena kita semua diciptakan menurut gambar dan rupa Allah; dalam arti ini nous adalah bagian dari gambar Tuhan di dalam kita. Namun, meskipun setiap manusia pada dasarnya memiliki nous, hal itu bekerja jauh lebih efektif ketika hal itu diaduk/diaktifkan oleh pekerjaan kasih karunia yang berkelanjutan, yang diterima pertama kali melalui Pembaptisan dan Krisma pada umat Kristen Ortodoks, dan ditambah oleh setiap kunjungan dari Tuhan dalam hidup kita.
Dengan demikian, nous dapat berfungsi sebagai definisi yang ditetapkan dalam wacana kontemporer, bahkan di mana makna ini mungkin membawa nuansa yang berbeda dari apa yang dinikmati secara historis (walaupun saya berharap sudah jelas sekarang bahwa secara historis nous tidak menikmati makna yang seragam).
Menyadari sifat konsep nous yang terus berkembang, dan keabsahan penggunaan definisi-definisi yang disepakati secara murni, tidak membebaskan kita dari keharusan menjaga diri dengan hati-hati dari beberapa asumsi sekularis yang telah disebutkan sebelumnya. Hal itu juga tidak menyederhanakan masalah terjemahan, yang tetap kompleks. Namun, hal itu menggarisbawahi bahwa sama seperti istilah hati, budi, dan intuisi, semuanya telah memiliki perjalanan sejarah yang cair dan kompleks, sehingga sejarah kata nous juga terus berlangsung dan dinamis.
Kita harus selalu menyadari bahaya membaca ulang arti bahasa Inggris kontemporer dari kata nous ke dalam tulisan kuno, yang mungkin bermaksud berbeda ketika penulis kuno menuliskannya. Beberapa terjemahan bahasa Yunani ke bahasa Inggris meletakkan kata nous atau terjemahan terkaitnya di dalam tanda kurung, seperti yang dilakukan oleh Dr. David C. Ford dalam beberapa terjemahan St. Yohanes Krisostomus. Ini mungkin cara paling baik ke depannya saat menerjemahkan istilah seperti nous. Cara ini tidak menutup kemungkinan kalau pembaca berbahasa Inggris—yang mungkin merasa sudah tahu arti kata nous karena pengaruh nuansa semantik dalam bahasa mereka—bisa saja secara keliru membayangkan arti baru ini ke dalam teks-teks zaman dahulu. Hal semacam ini sepertinya terjadi pada kata logismoi (pikiran/citra) dari bahasa Yunani yang, meski kini dipakai sebagai kata serapan di lingkungan umat Kristen Ortodoks yang berbahasa Inggris dan berkonotasi sangat negatif, tapi nyatanya St. Yohanes Krisostomus justru sering bicara tentang pentingnya memiliki "Logismoi yang baik" (pikiran yang memberi kehidupan) dalam pertempuran rohani.
Mengingat betapa luwes dan kompleksnya bahasa, tidak ada terjemahan yang sempurna, dan tidak ada satu pun terjemahan yang sama sekali bebas dari salah paham. Tapi ini sebenarnya adalah cara lain untuk mengatakan bahwa tidak ada jalan pintas dalam menelusuri sejarah, sama seperti tidak ada jalan pintas untuk urusan mengajar dan membimbing umat. Agar kedua tujuan ini tercapai, para cendekiawan dan pendeta perlu lebih sering saling berbicara. Pendeta yang menggunakan istilah bahasa Yunani dengan cara yang sederhana dan langsung sering kali tidak menyadari sejarah rumit istilah-istilah ini, apalagi perdebatan akademis seputarnya. Tapi serupa dengan itu, cendekiawan perlu menyadari kalau salah paham atau pemilihan kata dalam terjemahan yang awalnya tampak tidak masalah, ternyata bisa menimbulkan kesulitan nyata di tingkat jemaat.
Harapan saya adalah bahwa pos ini akan memberikan dorongan terhadap dialog interdisipliner dan lintas pembuahan yang diperlukan ini.
Satu pemikiran terakhir. Karena kita telah rusak, kita akan tergoda menuju pemahaman hidup dan pemikiran yang terfragmentasi dan mempolarisasi. Kita harus berhati-hati agar tidak menjatuhkan nous ke dalam hati, dan dengan demikian kehilangan ciri khasnya dan membelok ke dalam anti-intelektualisme; tetapi kita juga harus berhati-hati dalam peringatan yang berlawanan dan tidak menciutkan nous ke dalam pikiran yang terpisah dari hati, yang mengarah pada rasionalisme yang mandul. Nous yang sejajar dengan Roh Tuhan memungkinkan pikiran untuk berpikir, memahami, dan mengetahui pada kapasitas kita sepenuhnya dalam persatuan dengan Tuhan, sekaligus membiarkan hati dimurnikan dan beralih ke theosis. Semua ini menghasilkan, bukan dalam anti-intelektualisme, tetapi dalam pemekaran kecerdasan selaras dengan hati. Singkatnya, kita tertarik kepada Yesus, yang terbesar dari semua intelektual.
Peran Psikologi Sekuler | Terintegrasi: Mengadopsi teori psikologi modern (psikoanalisa, teori Rogers) dan membungkusnya dalam pendekatan spiritual. | Terpisah namun Melengkapi: Menghargai psikiatri untuk medis/neurologis, namun Gereja adalah satu-satunya "rumah sakit spiritual" untuk penyembuhan jiwa. |
|---|
Pandangan terhadap Penderitaan | Gangguan yang Harus Diusir: Penderitaan/depresi sering dianggap serangan iblis atau kurang iman yang harus disembuhkan secara instan. | Alat Pemurnian (Redemptif): Penderitaan adalah proses alami dan alat Tuhan untuk menumbuhkan kerendahan hati dan cinta total kepada Kristus. |
|---|
Pendekatan terhadap Pikiran | Konfrontatif: Melawan, menengking, atau memerangi pikiran buruk secara dramatis. | Pengabaian (Dispassion): Mengabaikan godaan pikiran buruk dan mengalihkan seluruh energi jiwa kepada Allah. |
|---|